Pengertian
Sistem Biaya Standar
Menurut Mulayadi
(2009:387) Biaya Standar adalah biaya yang di tentukan di muka, yang merupakan
jumlah biaya yang seharusnya dikeluarkan untuk membuat satu satuan produk atau
untuk membiayai kegiatan tertentu, di bawah asumsi kondisi ekonomi, efisiensi,
dan faktor-faktor lain tertentu.
Secara umum biaya
standar merupakan sebagai sumber daya ekonomis yang di korbankan untuk mencapai
tujuan atau sasaran tertentu, tetapi di dalam suatu pengambilan keputusan yang
berbeda.
Perbedaan Antara
Sistem-Sistem Biaya Sebenarnya, Normal, Standar
6.2.1 Kalkulasi Biaya Aktual
Sistem biaya actual
(actual cost system) mengharuskan perusahaan menggunakan biaya actual dari
seluruh sumber daya yang digunakan unruk produksi baik biaya utama maupun biaya
overhead untuk menentukan biaya per-unit. Biaya utama actual dapat dibebankan
dengan menggunakan penelusuran langsung dan dapat di bebankan secara tepat
waktu, sehingga tidak terdapat masalah yang cukup signifikan baik dari segi
keakuratan maupun ketepatan waktu. Metode ini mempunyai kelemahan dalam penggunaan
biaya actual untuk perhitungan biaya per-unit untuk baya overhead. Pembebanan
biaya overhead actual menciptakan konflik antara ketepatan waktu dan ke
akuratan. Perusahaan harus menunggu sampai akhir tahun untuk mengetahui biaya
overhead tahun tersebut, karena biaya overhead sepanjang tahun tersebut
merupakan milik unit yang di produksi sepanjang tahun tersebut dibutuhkan
secara tepat waktu baik untuk laporan keuangan interim maupun untuk penetapan
harga. Beberapa pihak menyarankan untuk mempersingkat/memperpendek periode,
misalnya mingguan ataupun bulanan untuk menghitung biaya overhead actual agar
tepat waktu. Ternyata saran ini juga mempunyai kelemahan karena timbulnya biaya
per-unit yang berfluktuasi. Hal ini terjadi karena :
1.
Terjadi biaya
overhead yang tidak merata;dan
2.
Produksi tidak
merata.
Sebagai ilustrasi, perhatikan contoh di
bawah ini:
PT BANDS menghasilkan satu jenis produk
mainan dari plastic. Setiap unit memerlukan 6 ons plastic dan 15 menit tenaga
kerja. 1 ons plastic harga Rp300 dan tarif tenaga kerja per jam nya Rp6.000.
Harga plastic dan tarif tenaga kerja stabil, sehingga biaya utama actual
per-unit produk adalah Rp3.300. Biaya overhead setiap bulannya berbeda seperti
tabel di bawah ini.
|
|
Januari
– April
|
Mei
- Agustus
|
Sept
- Des
|
|
Ovh.
Aktual
|
Rp20.000.000
|
Rp40.000.000
|
Rp40.000.000
|
|
Unit
Prod.
|
40.000
|
40.000
|
160.000
|
|
Ovh/Unit
|
Rp500
|
Rp1.000
|
Rp250
|
Karena biaya overhead berbeda setiap
periode dari ketiga periode tersebut, maka biaya per-unit produk tersebut untuk
tiap-tiap periode yang bersangkutan
menjadi berbeda-beda. Periode Januari sampai April biaya per-unit-nya adalah
Rp3.800. Periode Mei sampai Agustus Rp4.300. Dan, periode September sampai
Desember Rp3.550. Perbedaan ini disebabkan adanya produksi yang tidak merata,
seperti pada periode kedua dan ketiga, total biaya overheadnya sama tetapi unit
yang di produksi berbeda. Perbedaan ini juga disebabkan oleh biaya utilitas
lebih tinggi pada periode tertentu, misalnya pada periode pertama dan kedua,
unit yang di produksi sama, tetapi biaya yang di keluarkan dalam periode kedua
lebih besar dibandingkan dengan biaya yang di keluarkan dalam periode pertama.
Masalah fluktuasi biaya overhead per-unit dapat di hindarkan jika perusahaan
menunggu sampai akhir tahun, sehingga diperoleh biaya overhead per-unit tahun
tersebut sebesar Rp417.
6.2.2 Kalkulasi Biaya Normal
Kalkulasi biaya normal
(normal costing system) perusahaan untuk membebankan biaya actual beban
langsung dan tenaga kerja langsung kepada unit yang di produksi. Namun untuk
overhead dibebankan berdasarkan estimasi yang ditentukan terlebih dahulu.
kesulitan utama dari metode ini adalah perbedaan antara tarif actual dengan
tarif yang telah di tentukan. Metode ini banyak digunakan oleh perusahaan
karena sangat bermanfaat untuk pengambilan keputusan jangka pendek. Tarif
overhead yang ditentukan terlebih dahulu (predetermined overhead rate) dapat di
hitung dengan rumus berikut ini :
Tarif
Overhead = Overhead yang
Dianggarkan
Penggunaan Aktivitas yang Dianggarkan
6.3 Manfaat Sistem Biaya Standar
Manfaat standar di
dalam pengendalian biaya menurut Willson dan Campbell (1991:224) adalah sebagai
berikut :
1.
Standar
memberikan suatu tolok ukur yang lebih baik mengenai prestasi pelaksanaan;
2.
Memungkinkan
dipergunakannya “Prinsip Perkecualian (Principle
of Exception)” dengan akibat penghematan waktu. Menurut Supriyono (2000:98)
“Prinsip Perkecualian (Principle of
Exception)” menitikberatkan pada hal-hal penyimpangan di banding dengan
standar yang sudah ditetapkan;
3.
Memungkinkan
biaya akuntansi yang ekonomis;
4.
Memungkinkan
pelaporan yang segera atas informasi pengendalian biaya;dan
5.
Standar berlaku
sebagai insentif bagi karyawan.
6.4 Biaya Standar dan Anggaran Fleksibel
6.4.1 Biaya Standar
Biaya Standar menurut
Kartadinata (2000:213) adalah biaya yang ditentukan lebih dulu (Predetermined
Cost) untuk memproduksikan suatu unit atau sejumlah unit produk dalam jangka
waktu produksi berikutnya. Biaya yang ditentukan lebih dulu ini meliputi biaya
bahan baku, biaya tenaga kerja dan biaya overhead pabrik. Oleh sebab itu, biaya
standar merupakan biaya yang direncanakan untuk suatu produk berdasarkan
kondisi usaha saat ini.
Komponen
biaya standar terdiri dari 3 (tiga), antara lain :
1.
Standar Biaya
Bahan Baku
Biaya bahan baku
standar adalah biaya bahan baku persatuan yang seharusnya terjadi dalam
pengolahan satu satuan produk. Dalam menentukan biaya bahan baku standar ada
dua faktor yaitu Kuantitas Standar Bahan Baku dan Harga Standar Bahan Baku.
a.
Harga Standar
Bahan Baku
Harga standar bahan baku adalah harga bahan baku
persatuan yang seharusnya terjadi di dalam pembelian bahan baku. Di dalam
menentukan harga standar bahan baku meliputi harga faktur bahan baku dikurangi
potogan pembelian bahan baku apabila ada, di tambah biaya-biaya lainnya dalam
rangka pengadaan bahan baku sampai siap di pakai dengan mempertimbangkan faktor
kepraktisan dan perlakuannya.
b.
Kuantitas
Standar Bahan Baku
Kuantitas standar bahan baku adalah jumlah kuantitas
bahan baku yang seharusnya di pakai dalam pengolahan satu satuan produk
tertentu. Dalam menentukan standar kuantitas harus diperhitungkan kemungkinan
produk rusak (spoiled), produk cacat (defective), maupun sisa bahan di dalam
pengolahan yang sifatnya normal.
2.
Standar Biaya
Tenaga Kerja Langsung
Biaya tenag kerja
langsung standar adalah biaya tenaga kerja langsung yang seharusnya terjadi di
dalam pengolahan satu satuan produk. Di dalam menetapkan biaya tenaga kerja
langsung standar ada 2 (dua) faktor yaitu Tarif Standar Upah Langsung dan Jam Standar
Kerja.
a)
Tarif standar
upah langsung adalah tarif upah yang seharusnya terjadi untuk setiap satuan
pengupahan. Misalnya : upah per jam, upah per potong di dalam pengolahan produk
tertentu (Supriyono, 2000:107);dan
b)
Jam standar
kerja adalah jam atau waktu kerja yang seharusnya dipakai di dalam pengolahan
satu satuan produk. Di dalam penentuan jam atau waktu kerja standar harus
menuju kepada tingkat efisiensi maksimum, tetapi masih memungkinkan atau secara
wajar dapat dicapai oleh karyawan langsung (Supriyono, 2000:108).
3.
Standar Biaya
Overhead Pabrik
Biaya overhead pabrik
adalah biaya overhead pabrik yang sebenarnya terjadi di dalam mengolah satu
satuan produk.
6.4.2 Anggaran
Fleksibel
Pengertian Anggaran
Fleksibel menurut Munandar (2000:1) yang dimaksud dengan Business Budget atau
Budget (anggaran) adalah suatu rencana yang di susun secara sistematis, yang
meliputi seluruh kegiatan perusahaan, yang dinyatakan dalam unit (kesatuan)
moneter dan berlaku untuk jangka waktu (periode) tertentu yang akan datang.
Samryn (2001:226)
berpendapat bahwa Anggaran Fleksibel merupakan suatu bentuk anggaran yang
dirancang untuk mengcover suatu range aktivitas dan yang dapat digunakan untuk membuat beberapa anggaran level biaya
dalam kisaran yang dapat dibandingkan dengan biaya yang sesungguhnya terjadi.
a.
Anggaran
Produksi
Anggaran produksi
menurut Halim dan Supomo (1990:153) memuat tentang rencana unit yang di
produksi selama periode anggaran. Taksiran produksi ditentukan berdasarkan
rencana penjualan dan persediaan yang diharapkan. Dasar penyusunan anggaran
biaya produksi, yaitu anggaran biaya bahan baku, anggaran biaya tenaga kerja
langsung dan anggaran biaya overhead pabrik.
b.
Anggaran Biaya
Bahan Baku
Anggaran biaya bahan
baku menurut Munandar (2000:134) merupakan anggaran yang merencanakan secara
lebih terperinci tentang biaya bahan baku untuk di produksi selama periode yang
akan datang. Ada 13 diantaranya yang di dalamnya meliputi rencana tentang jenis
(kualitas) bahan baku yang diolah, jumlah (kuantitas) bahan baku yang diolah,
dan waktu (kapan) bahan baku tersebut diolah dalam proses produksi.
c.
Anggaran Biaya
Tenaga Kerja Langsung
Anggaran biaya tenaga
kerja langsung merupakan anggaran yang merencanakan secara lebih terperinci
tentang upah yang akan dibayarkan kepada para tenaga kerja langsung selama
periode yang akan datang, yang di dalamnya meliputi rencana tentang jumlah
waktu yang diperlukan oleh para tenaga kerja langsung untuk menyelesaikan unit
yang akan di produksi, tarif upah yang akan dibayarkan kepada para tenaga kerja
langsung dan waktu (kapan) yang akan dihasilkan, serta tempat (departemen)
dimana para tenaga kerja langsung tersebut akan bekerja.
d.
Anggaran Biaya
Overhead Pabrik
Anggaran biaya overhead
pabrik merupakan anggaran yang merencanakan secara lebih terperinci tentang
beban biaya pabrik tidak langsung selama periode yang akan datang, yang
didalamnya meliputi rencana jenis biaya pabrik tidak langsung, jumlah biaya
pabrik tidak langsung dan waktu (kapan) biaya pabrik tidak langsung tersebut
dibebankan, yang masing-masing dikaitkan dengan tempat (departemen) dimana
biaya pabrik tidak langsung tersebut terjadi.
Anggaran dan biaya
standar merupakan dua penentuan biaya yang ditentukan di muka yang mempunyai
perbedaan pada cara penentuannya. Anggaran digunakan untuk menentukan seluruh
biaya yang akan terjadi selama periode tertentu. Sedangkan biaya standar
digunakan untuk menentukan biaya dalam satu unit atau sejumlah unit tertentu.
Penentuan biaya di muka dalam penelitian ini menggunakan biaya standar sebagai
alat pengendalian biaya karena secara teknis biaya standar lebih tepat
digunakan untuk mengendalikan biaya produksi. Komponen biaya standar yang
digunakan adalah standar biaya bahan baku dan standar biaya tenaga kerja
langsung.
·
Anggaran
Fleksibel sebagai Alat Perencanaan dan Pengendalian
Anggaran fleksibel
adalah suatu anggaran yang penyusunannya dikelompokkan pada berbagai tingkat
kegiatan. Anggaran fleksibel memisahkan antara biaya variable dengan biaya
tetap, sebab biaya variable akan bervariasi jumlahnya sebanding dengan variasi
kegiatan, sehingga harus dipisahkan jumlahnya antar berbagai tingkat kegiatan,
sedang biaya tetap tidak perlu dikelompokkan untuk masing-masing tingkat
kegiatan karena jumlah biaya tetap tidak di pengaruhi oleh penambahan kegiatan.
Untuk kepentingan
pengendalian, anggaran fleksibel lebih tetap digunakan disbanding anggaran
tetap, sebab analisis dengan anggaran fleksibel akan menunjukkan penghematan
dan pemborosan biaya pada tingkat kegiatan sesungguhnya, sehingga apabila
realisasi menunjukkan tingkat kapasitas 90.000 unit, maka alat perencanaan
(anggaran) untuk evaluasi digunakan anggaran pada kapasitas yang sama yaitu
90.000 unit.
Anggaran tetap tidak
tepat untuk pengendalian biaya-biaya yang bersifat fluktuatif dengan kegiatan
karena akan keliru memberikan evaluasi. Anggaran tetap hanya tepat untuk
mengendalikan biaya-biaya tertentu saja seperti biaya riset dan pengembangan,
karena biaya ini di anggarkan hanya pada tingkat pengeluaran maksimum, selain
itu biaya seperti riset dan pengembangan di ikuti dan dihubungkan dengan
hasilnya.
Anggaran fleksibel
sebagai alat pengendalian akan memberikan informasi, seberapa besar efektivitas
pengeluaran biaya pada kegiatan yang telah di jalankan. Akhirnya anggaran
fleksibel tidak akan memberikan informasi yang salah dengan mencantumkan biaya
dan pendapatan sesuai dengan kapasitas yang di realisasi, karena penanggung
jawab biaya akan di evaluasi pada tingkat pengawasan yang riil dan masuk akal.
·
Kegunaan dari
Anggaran Fleksibel
Anggaran ini mengaitkan
volume aktivitas dengan jumlah rupiah yang di anggarkan. Bermanfaat terutama
dalam menaksir dan mengendalikan biaya
pabrik dan beban operasi. Adapun kegunaan dari anggaran fleksibel ini adalah
sebagai berikut :
a.
Dapat di pakai
untuk merumuskan anggaran sebelum adanya data taksiran tingkat aktivitas;
b.
Dapat di pakai
setelah adanya data untuk menghitung berapa seharusnya biaya untuk tingkat
aktivitas actual;dan
c.
Membantu
manajemen dalam menghadapi ketidakpastian dengan mengandalkan mereka untuk
melihat taksiran hasil dalam kisaran aktivitas tertentu.
6.5 Dampak Penerapan Sistem Biaya Standar Pada Sistem
Penganggaran Perusahaan Manufaktur
·
Biaya-biaya
pada perusahaan manufaktur menjadi lebih terkendali.
·
Informasi
pengendalian biaya pada perusahaan manufaktur dapat sesegera mungkin
dilaporkan.
·
Sistem biaya
standar dirancang untuk mengendalikan biaya.
·
Sistem biaya
standar memberikan pedoman kepada manajemen berapa biaya yang seharusnya untuk
melaksanakan kegiatan tertentu.
·
Sistem biaya
standar menyajikan analisis penyimpangan biaya sesungguhnya dan biaya standar.
6.6
Cara Menentukan Biaya Standar untuk Bahan Baku,
Tenaga Kerja, dan FOH
1.
Prosedur
Penentuan Biaya Bahan Baku Standar
Biaya bahan baku standar terdiri dari:
-
Kuantitas standar
-
Harga
standar.
Kuantitas standar bahan baku ditentukan dengan
menggunakan;
-
Penyelidikan
khusus
-
Analisis
catatan masa Ialu.
Harga yang dipakai sebagai standar dapat berupa;
-
Harga yang
diperkirakan akan berlaku di masa yang akan datang
-
Harga yang
berlaku pada saat penyusunan standar
-
Harga yang
diperkirakan akan merupakan harga normal dalam jangka panjang
2.
Prosedur
Penentuan Biaya Tenaga Kerja Standar
Biaya tenaga standar terdiri dari dua unsur yaitu jam tenaga kerja standar dan
tarif upah standar.
Jam tenaga standar
dapat ditentukan dengan cara;
·
Menghitung
rata-rata jam kerja yang dikonsumsi dalam suatu pekerjaan masa lalu Membuat
test-run operasi produksi di bawah keadaan normal yang diharapkm
·
Mengadakan
penyelidikan gerak dan waktu dari berbagai kerja karyawan di bawah keadaan
nyata yang diharapkan.
·
Mengadakan
taksiran yang wajar, didasarkan pada pengalaman dan pengetahuan operasi
produksi dan produk.
Tarif upah standar dapat ditentukan atas dasar
·
Perjanjian
dengan organisasi karyawan .
·
Data upah
masa lalu.
·
Penghitungan
tarif upah dalam keadaan operasi normal.
3.
Prosedur
Penentuan Biaya Overhead Pabrik
Menurut Supriono di dalam pabrik
yang menggunakan tarif tunggal, biaya overhead standar ditentukan dengan
langkah-langkah sebagai berikut:
a. Penentuan anggaran biaya overhead pabrik. Pada
awal periode disusun aggaran untuk setiap elemen biaya overhead pabrik yang
digolongkan ke dalam biaya tetap dan biaya variabel, dan lebih baik dalam
anggaran fleksibel.
b. Penentuan dasar pembebanan dan tingkat kapasitas.
Setelah anggaran biaya overhead pabrik disusun, maka untuk menghitung tarif
standar ditentukan dasar pembebanan dan tingkat kapasitas.
c. Perhitungan tarif standar biaya overhead pabrik.
Tarif standar biaya overhead pabrik dihitung sebesar anggaran biaya overhead
pabrik dibagi tingkat kapasitas yang dapakai. Untuk tujuan analisa selisih
biaya overhead pabrik maka tarif standar biaya overhead pabrik dihitung untuk
tarif total, tarif tetap dan tarif variable (2000: 96).
6.7 Jenis
Penyimpangan, Pembelian dan Pemakaian, teker (Rate/tarif/ jam), FOH 2 selisih,
3 selisih, 4 Selisih
v
Analisis
Selisih Biaya Produksi Langsung
Ada 3 model analisis selisih biaya produksi langsung :
1. Model Sam Selisih (The One-Way Model)
Dalam model ini, selisih antara
biaya sesungguhnya dengan biaya standar tidak dipecah kedalam selisih harga dan
selisih kuantitas, tetapi hanya ada satu macam selisih yang merupakan gabungan
antara selisih harga dengan selisih kuantitas.
|
St = (HSt x KSt) –
(HS x KS)
|
Diketahui :
St = Total Selisih
Hst = Harga Standar
Kst = Kuantitas Standar
HS = Harga Sesungguhnya
KS = Kuantitas Sesungguhnya
2.
Model Dua
Selisih (The Two-Way Model)
Selisih antara biaya sesungguhnya dengan biaya
standar dipecah menjadi 2 macam selisih, yaitu selisih harga dan selisih
kuantitas atau etisiensi.
Rumus perhitungan selisih dapat dinyatakan sebagai berikut
:
Perhitugan Selisih Harga Perhitungan
Selisih Kuantitas
|
SK = (KSt - KS) x HSt
|
|
SH = (HSt - HS) x KS
|
Diketahui :
SH = Selisih Harga SK = Selisih Kuantitas
Hst = Harga Standar Ks = Kuantitas Standar
HS = Harga Sesungguhnya KS = KuantitasSesungguhnya
3.
Model tiga
Selisih (The Three-Way Model)
Selisih antara biaya standar dengan
biaya sesungguhnya dipecah menjadi 3 macam selisih berikut ini: Selisih Harga, Selisih kuantitas, Selisih
Harga / Kuantitas.
Hubungan harga dan kuantitas
sesunggulmya dapat terjadi dengan kemungkinan berikut ini:
a. Harga dan Kuantitas Standar masing-masing lebih
tinggi atau lebih rendah dari harga dan kuantitas sesungguhnya.
|
SH = (HSt – HS) x KSt
|
Perhitungan Selisih Harga
|
SK = (KSt - KS) x HSt
|
|
SHK = (HSt -
HS) x (KSt – KS)
|
|
SH = (HSt – HS) x KSt
|
Perhitungan Selisih Harga
|
SK = (KSt - KS) x HS
|
|
SHK = (HSt -
HS) x (KSt – KS)
|
b. Harga Standar “ Lebih Rendah “ dari Harga Sesungguhnya
namun sebaliknya kuantitas standar “ Lebih Tinggi” dari kunatitas sesungguhnya.
Selisih gabungan
yang merupakan selisih harga / kuantitas tidak akan terjadi. Dengan demikian
perhitungan selisih harga dan kuantitas dalam kondisi seperti ini dengan model
3 selisih dilakukan dengan rumus sebagai berikut :
|
SH = (HSt – HS) x KS
|
|
SK = (KSt - KS) x HS
|
Selisih harga / kuatitas
sama dengan nol
c. Harga Standar “ Lebih Tinggi “ dari Harga Scsungguhnya,
namun sebaliknya Kuantitas Standar ” Lebih Rendah “ dari Kuantitas
Sesungguhnya.
|
SH = (HSt – HS) x KSt
|
Perhitungan Selisih Harga
|
SK = (KSt - KS) x HS
|
Selisih harga / kuatitas sama dengan
nol
CONTOH SOAL
PT. CAHAYA MENTARI pada tahun 1996 memproduksi produk
jadi sebanyak 120.000 unit. Bahan baku yang dibeli dari pemasok sebanyak 750.000
kg, sedangkan yang digunakan dalam proses produksi sebanyak 700.000 kg.
Dalam menghasilkan produk, ditetapkan standar kuantitas
bahan baku sebanyak 6 kg/ unit dengan standar harga Rp. 2.150 / kg, lalu ditentukan
pula standar efisiensi tenaga kerja langsung 3 jam / unit dengan standar tarif
upah Rp. 2.400/ jam . Namun kenyataan yang terjadi, harga bahan baku
sesungguhnya hanya Rp. 2.100/ kg dengan jumlah Jam tenaga kerja sesungguhnya selama
365.000 jam dengan tarif Rp. 2.500 / jam.
Diminta
Carilah :
1.
Selisih
harga bahan baku.
2.
Selisih
kuantitas bahan baku.
3.
Selisih
efisiensi tenaga kerja langsung.
4.
Selisih
Tarif tenaga kerja langsung
5. Jurnal untuk mencatat gaji dan upah yang harus
dibayar serta pengalokasian selisih gaji dan upah dengan mengabaikan pajak atas
gaji dan upah.
PENYELESAIAN :
1.
Selisih
Harga Bahan Baku :
Selisih Harga = ( Harga Ssg - Harga Std) x Kuantitas Ssg
=
( Rp2.100 – Rp2.150 ) x 750.000
=
Rp37.500.000 (Laba)
2.
Selisih
kuantitas bahan baku:
Selisih Kuantitas =
[ Kuntitas SSg – Kuantitas Std yang ditetapkan]
x harga Std
=
[ 700.000 – (6 x 120.000)] x Rp2.150
=
Rp43.000.000 (Laba)
3.
Selisih
Efisiensi jam tenaga kerja :
Selisih jam kerja
=[Jam SSg – Jam Kerja Std yang ditetapkan] x
Tarif Upah Std
=
[ 365.000 – (3 x 120.000)] x Rp2.400
=
Rp12.000.000 (Rugi)
4.
Selisih
Tarif Upah Tenaga Kerja Langsung:
Selisih Tarif Upah =[Tarif
Upah SS –Tarif Upah Std] x Jam Kerja Ssg
=
[ Rp2.500 – Rp2.400] x Rp365.000
=
Rp36.500.000 (Rugi)
5.
Jurnal untuk
mencatat gaji dan upah yang harus dibayar:
Gaji dan Upah (2.500 x
365.000) Rp912.500.000 -
Berbagai perkiraan hutang - Rp912.500.000
Jurnal untuk mengalokasikan gaji dan
upah serta selisih-selisihnya:
Barang
dalam proses (360.000 x 2.400) Rp864.000.000 -
Selisih
efisiensi TK Langsung Rp
12.000.000 -
Selisih
tarif TL langsung Rp 36.500.000 -
Gaji
dan Upah - Rp912.500.000
SOAL LATIHAN :
KASUS 1
PT. SINAR REMBULAN dalam mengolah produknya manggunakan 2
macam bahan baku untuk produk A. Berikut data-data mangenai bahan baku X dan Y
untuk tahun I996. Data-data Harga Standar (STD) dan Harga Sesangguimya (SSG):
|
Bulan
|
Bahan X
|
Bahan Y
|
||
|
STD
|
SSG
|
STD
|
SSG
|
|
|
Jan
|
1.200
|
1.220
|
750
|
770
|
|
Feb
|
1.200
|
1.250
|
750
|
770
|
|
Mar
|
1.225
|
1.250
|
750
|
770
|
|
Apr
|
1.225
|
1.250
|
750
|
770
|
|
Mei
|
1.225
|
1.250
|
750
|
770
|
|
Jun
|
1.225
|
1.250
|
750
|
770
|
|
Jul
|
1.225
|
1.250
|
780
|
810
|
|
Ags
|
1.225
|
1.250
|
780
|
810
|
|
Sep
|
1.225
|
1.250
|
780
|
810
|
|
Okt
|
1.240
|
1.300
|
780
|
810
|
|
Nov
|
1.240
|
1.300
|
780
|
810
|
|
Des
|
1.240
|
1.300
|
780
|
810
|
Data-data Kuantitas Pemakaian
Standar (STD) dan Pemakaian Sesungguhnya (SSG)
|
Bulan
|
Bahan X
|
Bahan Y
|
||
|
STD
|
SSG
|
STD
|
SSG
|
|
|
Jan
|
1.500
|
1.550
|
2.700
|
2.850
|
|
Feb
|
1.500
|
1.550
|
2.700
|
2.800
|
|
Mar
|
1.500
|
1.600
|
2.700
|
2.800
|
|
Apr
|
1.500
|
1.570
|
2.700
|
2.825
|
|
Mei
|
1.500
|
1.570
|
2.700
|
2.800
|
|
Jun
|
1.500
|
1.570
|
2.700
|
2.850
|
|
Jul
|
1.500
|
1.600
|
2.700
|
2.825
|
|
Ags
|
1.500
|
1.600
|
2.700
|
2.850
|
|
Sep
|
1.500
|
1.575
|
2.700
|
2.850
|
|
Okt
|
1.500
|
1.550
|
2.700
|
2.870
|
|
Nov
|
1.500
|
1.600
|
2.700
|
2.870
|
|
Des
|
1.500
|
1.575
|
2.700
|
2.870
|
Diminta:
1.
Hitung
selisih harga bahan baku X dan Y untuk tahun 1996
2.
Hitung
selisih bahan kuantitas bahan baku X dan Y untuk tahun 1996
JAWAB:
KASUS 1
PT. SINAR REMBULAN
1.
Hitung
selisih harga bahan baku X dan Y untuk tahun 1996
Tabel 1. Selisih Harga Bahan Baku X
|
Bulan
|
Kuantitas Sesungguhnya (Kg)
|
Harga Standar
(Rp)
|
Harga Sesungguhnya (Rp)
|
Selisih
(Rp)
|
|
Jan
|
1.550
|
1.200
|
1.220
|
31.000
|
|
Feb
|
1.550
|
1.200
|
1.250
|
77.500
|
|
Mar
|
1.600
|
1.225
|
1.250
|
40.000
|
|
Apr
|
1.570
|
1.225
|
1.250
|
39.250
|
|
Mei
|
1.570
|
1.225
|
1.250
|
39.250
|
|
Jun
|
1.570
|
1.225
|
1.250
|
39.250
|
|
Jul
|
1.600
|
1.225
|
1.250
|
40.000
|
|
Ags
|
1.600
|
1.225
|
1.250
|
40.000
|
|
Sep
|
1.575
|
1.225
|
1.250
|
39.375
|
|
Okt
|
1.550
|
1.240
|
1.300
|
93.000
|
|
Nov
|
1.600
|
1.240
|
1.300
|
96.000
|
|
Des
|
1.575
|
1.240
|
1.300
|
94.500
|
|
|
|
|
Jumlah
|
669.125
|
Tabel 2. Selisih Harga Bahan Baku Y
|
Bulan
|
Kuantitas Sesungguhnya (Kg)
|
Harga Standar
(Rp)
|
Harga Sesungguhnya (Rp)
|
Selisih
(Rp)
|
|
Jan
|
2.850
|
750
|
770
|
57.000
|
|
Feb
|
2.800
|
750
|
770
|
56.000
|
|
Mar
|
2.800
|
750
|
770
|
56.000
|
|
Apr
|
2.825
|
750
|
770
|
56.500
|
|
Mei
|
2.800
|
750
|
770
|
56.000
|
|
Jun
|
2.850
|
750
|
770
|
57.000
|
|
Jul
|
2.825
|
780
|
810
|
84.750
|
|
Ags
|
2.850
|
780
|
810
|
85.500
|
|
Sep
|
2.850
|
780
|
810
|
85.500
|
|
Okt
|
2.870
|
780
|
810
|
86.100
|
|
Nov
|
2.870
|
780
|
810
|
86.100
|
|
Des
|
2.850
|
780
|
810
|
85.500
|
|
|
|
|
Jumlah
|
851.950
|
2.
Selisih
Kuantitas Bahan Baku
Tabel 1. Selisih Kuantitas Bahan Baku X
|
Bulan
|
Kuantitas Sesungguhnya (Kg)
|
Harga Standar
(Rp)
|
Harga Sesungguhnya (Rp)
|
Selisih
(Rp)
|
|
Jan
|
1.200
|
1.500
|
1.550
|
60.000
|
|
Feb
|
1.200
|
1.500
|
1.550
|
60.000
|
|
Mar
|
1.225
|
1.500
|
1.600
|
122.500
|
|
Apr
|
1.225
|
1.500
|
1.570
|
85.750
|
|
Mei
|
1.225
|
1.500
|
1.570
|
85.750
|
|
Jun
|
1.225
|
1.500
|
1.570
|
85.750
|
|
Jul
|
1.225
|
1.500
|
1.600
|
122.500
|
|
Ags
|
1.225
|
1.500
|
1.600
|
122.500
|
|
Sep
|
1.225
|
1.500
|
1.575
|
91.875
|
|
Okt
|
1.240
|
1.500
|
1.550
|
62.000
|
|
Nov
|
1.240
|
1.500
|
1.600
|
124.000
|
|
Des
|
1.240
|
1.500
|
1.575
|
93.000
|
|
|
|
|
Jumlah
|
1.115.625
|
Tabel 2. Selisih Kuantitas Bahan Baku Y
|
Bulan
|
Harga Standar
(Rp)
|
Kuantitas Standar (Rp)
|
Kuantitas Sesungguhnya (Rp)
|
Selisih
(Rp)
|
|
Jan
|
750
|
2.700
|
2.850
|
112.500
|
|
Feb
|
750
|
2.700
|
2.800
|
75.000
|
|
Mar
|
750
|
2.700
|
2.800
|
75.000
|
|
Apr
|
750
|
2.700
|
2.825
|
93.750
|
|
Mei
|
750
|
2.700
|
2.800
|
75.000
|
|
Jun
|
750
|
2.700
|
2.850
|
112.500
|
|
Jul
|
780
|
2.700
|
2.825
|
97.500
|
|
Ags
|
780
|
2.700
|
2.850
|
117.000
|
|
Sep
|
780
|
2.700
|
2.850
|
117.000
|
|
Okt
|
780
|
2.700
|
2.870
|
132.600
|
|
Nov
|
780
|
2.700
|
2.870
|
132.600
|
|
Des
|
780
|
2.700
|
2.870
|
132.600
|
|
|
|
|
Jumlah
|
1.273.050
|
KASUS 2
PT GEMERLAP BINTANG pada tahun 1995 memproduksi produk
jadi sebanyak 20.000 unit, Bahan baku yang dibeli dari pemasok sebanyak 70.000
kg sedangkan yang digunakan dalam proses produksi sebanyak 60.000 kg.
Dalam menghasilkan produk, ditetapkan standar kuantitas
bahan baku sebanyak 4 kg / unit dengan standar harga Rp. 1.100/ kg, lalu
ditentukan pula standar eftsiensi tenaga kerja langsung 2 jam/ unit dengan standar
tarif upah Rp. 4.600/ jam . Namun kenyataan yang terjadi, harga bahan baku sesungguhnya
hanya Rp. 1.050/kg dengan jumlah jam tenaga kerja sesugguhnya selama 41.800 jam
dengan tarif Rp. 4.800/jam.
Dimima
:
1.
Selisih
harga bahan baku.
2.
Selisih
kuantitas bahan baku.
3.
Selisih
efisiensi tenaga kerja langsung.
4.
Selisih
Tarif tenaga kerja langsung
5.
Jurnal untuk
mencatat gaji dan upah yang harus dibayar serta pengalokasian selisih gaji dan
upah.
Jawab:
KASUS 2
PT. GEMERLAP BINTANG
1.
Selisih
harga bahan baku.
Selisih Harga =
(Harga Ssg - Harga Std) x Kuantitas Ssg
=
(Rp1.050 – Rp1.100) x 70.000
=
Rp3.500.000 (Laba)
2.
Selisih
kuantitas bahan baku.
Selisih Kuantitas = [Kuantitas Ssg - Kuantitas Std yang ditetapkan] x Harga Std
=
[60.000 – (4 x 20.000)] x Rp1.100
=
Rp22.000.000 (Laba)
3.
Selisih
efisiensi tenaga kerja langsung.
Selisih Jam Kerja= [Jam Kerja
Ssg – Jam Kerja Std yang ditetapkan] x Tarif Upah Std
= [41.800 – (2 x 20.000)] x Rp4.600
= Rp8.280.000 (Rugi)
4.
Selisih
Tarif tenaga kerja langsung
Selisih Tarif Upah = [Tarif Upah Ssg – Tarif Upah Std] x Jam Kerja Ssg
=
[Rp4.800 – Rp4.600] x 41.800
=
Rp8.360.000 (Rugi)
5.
Jurnal untuk
mencatat gaji dan upah yang harus dibayar
Gaji dan Upah (4.800 x
41.600) Rp200.640.000 -
Berbagai perkiraan hutang - Rp200.640.000
Jurnal mengalokasikan gaji dan upah serta selisih-selisihnya.
Barang dalam proses (40.000 x 4.600) Rp184.000.000 -
Selisih efisiensi TK langsung Rp 8.280.000 -
Selisih tarif TL langsung Rp 8.360.000 -
Gaji dan Upah - Rp200.640.000
KASUS 3
CV. CAHAYA MENTARI yang berproduksi dengan 2 jenis bahan
baku dan memiliki 2 dept. produksi dimana Bahan Baku hanya dipakal pada Dept. I
dan BOP pada Dept. II. Biaya standar untuk mentukan biaya produksi berdasarkan
data-data sebagai berikut :
a. Harga bahan distandarkan Rp. 100/kg untuk bahan A
dan Rp. 400/kg untuk bahan B ditambah biaya penanganan masing-masing 10%. Untuk
membuat satu unit produk jadi diperlukan 2,5 kg bahan A dan 2 kg bahan B.
b. Jumlah tenaga kerja yang menangani langsung
produksi adalah 40 orang di Dept. I dan 100 orang di Dept. II, dimana
diperkirakan tiap pekerja bisa bekerja efektif 35 jam/minggu. Upah dan gaji
total per minggu Dept. I Rp. 280.000 dan Dept. II Rp875.000 ditambah 20%
sebagai cadangan premi lembur dan premi lain-lain. Dalam dept. I bahan diolah
selama 2,5 jam dan dalam dept. II selama 2 jam.
c. Kapasitas normal produksi adalah 1.000 unit
(100%) atau 4.000 jam mesin dengan batas terendah produksi 80% dan kapasitas
penuh 120%. BOP yang terdiri dari overhead tetap dan variabel pada kapasitas
normal adalah:
Variabel Tetap
Upah pegawai Rp320.000 -
Bahan pembantu Rp140.000 -
Lain-lain Rp 20.000 -
Penyusutan Mesin -
Rp190.000
Listrik - Rp50.000
Pemeliharaan,
dll - Rp80.000
Dari
data-data tersebut anda diminta untuk menyusun biaya standar per unit produk
jadi dan fleksibel buget untuk BOP pada kapasitas 80%,100%,120%.
JAWABAN
:
KASUS 3
PT. CAHAYA MENTARI
Penyusunan
Biaya Standar Bahan Baku per Unit Produk :
Bahan A Bahan
B
l. Harga
bahan per unit (kg) Rp.
100 Rp. 400
2. Biaya penanganan bahan 10 % 10
%
3. Kebumhan bahan 2,5 kg 2 kg
4. Harga standar bahan per kg Rp. 110 Rp. 440 *)
5. Biaya standar bahan Rp. 275 **) Rp. 1.100,
6. Biaya standar bahan baku
(Rp.
275+ Rp 1.100) = Rp. 1.375
*)
Rp 400+(10% x 400)=Rp.440
**)
2.5 kg x Rp110= Rp275
Penyusutan
Biaya Standar Upah Langsung per Unit Produk
Dept. I Dept. II
1. Tenaga Kerja 40 100
2. Jam kerja per minggu / orang 35 35
3. Jumlah jam kerja / minggu (1 x 2) 1.400 3.500
4. Jumlah biaya per minggu Rp280.000 Rp875.000
5. Biaya per jam Rp200 Rp250
6. Cadangan Premi 20% Rp40 Rp50
7. Biaya per jam total (5 + 6) Rp240 Rp300
8. Kebutuhan jam kerja 2,5 2
9. Biaya standar upah
(2,5
x Rp240) + (2 x 300) = Rp1.200/unit
Penyusutan
Biaya Standar Overhead Pabrik per Unit Produk :
|
Jenis Biaya
|
80%
|
100%
|
120%
|
|||
|
Total (Rp)
|
Per Jam (Rp)
|
Total (Rp)
|
Per Jam (Rp)
|
Total
(Rp)
|
Per Jam (Rp)
|
|
|
Biaya variabel
|
|
|
|
|
|
|
|
Upah pengawas
|
256.000
|
80
|
320.000
|
80
|
284.000
|
80
|
|
Bahan
|
112.000
|
35
|
140.000
|
35
|
168.000
|
35
|
|
Pembantu
|
16.000
|
5
|
20.000
|
5
|
24.000
|
5
|
|
Lain-lain
|
|
|
|
|
|
|
|
|
384.000
|
120
|
480.000
|
120
|
576.000
|
120
|
|
Biaya tetap
|
|
|
|
|
|
|
|
Peny mesin
|
190.000
|
|
190.000
|
|
190.000
|
|
|
Listrik
|
50.000
|
|
50.000
|
|
50.000
|
|
|
pemeliharaan
|
80.000
|
|
80.000
|
|
80.000
|
|
|
|
320.000
|
|
320.000
|
|
320.000
|
|
|
Jumlah Biaya
|
704.000
|
|
800.000
|
|
896.000
|
|
Biaya
standar overhead pabrik dibuat pada kapasitas normal dimana:
BOP/jam =
=
Rp 120 BOP Tetap =
= Rp80
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus