body{display:block; -khtml-user-select:none; -webkit-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; -o-user-select:none; user-select:none; unselectable:on;}
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh

Kamis, 01 Agustus 2019

SISTEM BIAYA STANDAR


Pengertian Sistem Biaya Standar
Menurut Mulayadi (2009:387) Biaya Standar adalah biaya yang di tentukan di muka, yang merupakan jumlah biaya yang seharusnya dikeluarkan untuk membuat satu satuan produk atau untuk membiayai kegiatan tertentu, di bawah asumsi kondisi ekonomi, efisiensi, dan faktor-faktor lain tertentu.
Secara umum biaya standar merupakan sebagai sumber daya ekonomis yang di korbankan untuk mencapai tujuan atau sasaran tertentu, tetapi di dalam suatu pengambilan keputusan yang berbeda.



Perbedaan Antara Sistem-Sistem Biaya Sebenarnya, Normal, Standar
            6.2.1    Kalkulasi Biaya Aktual
Sistem biaya actual (actual cost system) mengharuskan perusahaan menggunakan biaya actual dari seluruh sumber daya yang digunakan unruk produksi baik biaya utama maupun biaya overhead untuk menentukan biaya per-unit. Biaya utama actual dapat dibebankan dengan menggunakan penelusuran langsung dan dapat di bebankan secara tepat waktu, sehingga tidak terdapat masalah yang cukup signifikan baik dari segi keakuratan maupun ketepatan waktu. Metode ini mempunyai kelemahan dalam penggunaan biaya actual untuk perhitungan biaya per-unit untuk baya overhead. Pembebanan biaya overhead actual menciptakan konflik antara ketepatan waktu dan ke akuratan. Perusahaan harus menunggu sampai akhir tahun untuk mengetahui biaya overhead tahun tersebut, karena biaya overhead sepanjang tahun tersebut merupakan milik unit yang di produksi sepanjang tahun tersebut dibutuhkan secara tepat waktu baik untuk laporan keuangan interim maupun untuk penetapan harga. Beberapa pihak menyarankan untuk mempersingkat/memperpendek periode, misalnya mingguan ataupun bulanan untuk menghitung biaya overhead actual agar tepat waktu. Ternyata saran ini juga mempunyai kelemahan karena timbulnya biaya per-unit yang berfluktuasi. Hal ini terjadi karena :
1.      Terjadi biaya overhead yang tidak merata;dan
2.      Produksi tidak merata.
Sebagai ilustrasi, perhatikan contoh di bawah ini:
PT BANDS menghasilkan satu jenis produk mainan dari plastic. Setiap unit memerlukan 6 ons plastic dan 15 menit tenaga kerja. 1 ons plastic harga Rp300 dan tarif tenaga kerja per jam nya Rp6.000. Harga plastic dan tarif tenaga kerja stabil, sehingga biaya utama actual per-unit produk adalah Rp3.300. Biaya overhead setiap bulannya berbeda seperti tabel di bawah ini.

Januari – April
Mei - Agustus
Sept - Des
Ovh. Aktual
Rp20.000.000
Rp40.000.000
Rp40.000.000
Unit Prod.
40.000
40.000
160.000
Ovh/Unit
Rp500
Rp1.000
Rp250
Karena biaya overhead berbeda setiap periode dari ketiga periode tersebut, maka biaya per-unit produk tersebut untuk tiap-tiap  periode yang bersangkutan menjadi berbeda-beda. Periode Januari sampai April biaya per-unit-nya adalah Rp3.800. Periode Mei sampai Agustus Rp4.300. Dan, periode September sampai Desember Rp3.550. Perbedaan ini disebabkan adanya produksi yang tidak merata, seperti pada periode kedua dan ketiga, total biaya overheadnya sama tetapi unit yang di produksi berbeda. Perbedaan ini juga disebabkan oleh biaya utilitas lebih tinggi pada periode tertentu, misalnya pada periode pertama dan kedua, unit yang di produksi sama, tetapi biaya yang di keluarkan dalam periode kedua lebih besar dibandingkan dengan biaya yang di keluarkan dalam periode pertama. Masalah fluktuasi biaya overhead per-unit dapat di hindarkan jika perusahaan menunggu sampai akhir tahun, sehingga diperoleh biaya overhead per-unit tahun tersebut sebesar Rp417.
            6.2.2    Kalkulasi Biaya Normal
Kalkulasi biaya normal (normal costing system) perusahaan untuk membebankan biaya actual beban langsung dan tenaga kerja langsung kepada unit yang di produksi. Namun untuk overhead dibebankan berdasarkan estimasi yang ditentukan terlebih dahulu. kesulitan utama dari metode ini adalah perbedaan antara tarif actual dengan tarif yang telah di tentukan. Metode ini banyak digunakan oleh perusahaan karena sangat bermanfaat untuk pengambilan keputusan jangka pendek. Tarif overhead yang ditentukan terlebih dahulu (predetermined overhead rate) dapat di hitung dengan rumus berikut ini :
                        Tarif Overhead =        Overhead yang Dianggarkan
                                                       Penggunaan Aktivitas yang Dianggarkan
6.3       Manfaat Sistem Biaya Standar
Manfaat standar di dalam pengendalian biaya menurut Willson dan Campbell (1991:224) adalah sebagai berikut :
1.      Standar memberikan suatu tolok ukur yang lebih baik mengenai prestasi pelaksanaan;
2.      Memungkinkan dipergunakannya “Prinsip Perkecualian (Principle of Exception)” dengan akibat penghematan waktu. Menurut Supriyono (2000:98) “Prinsip Perkecualian (Principle of Exception)” menitikberatkan pada hal-hal penyimpangan di banding dengan standar yang sudah ditetapkan;
3.      Memungkinkan biaya akuntansi yang ekonomis;
4.      Memungkinkan pelaporan yang segera atas informasi pengendalian biaya;dan
5.      Standar berlaku sebagai insentif bagi karyawan.

6.4       Biaya Standar dan Anggaran Fleksibel
            6.4.1    Biaya Standar
Biaya Standar menurut Kartadinata (2000:213) adalah biaya yang ditentukan lebih dulu (Predetermined Cost) untuk memproduksikan suatu unit atau sejumlah unit produk dalam jangka waktu produksi berikutnya. Biaya yang ditentukan lebih dulu ini meliputi biaya bahan baku, biaya tenaga kerja dan biaya overhead pabrik. Oleh sebab itu, biaya standar merupakan biaya yang direncanakan untuk suatu produk berdasarkan kondisi usaha saat ini.
                                    Komponen biaya standar terdiri dari 3 (tiga), antara lain :
1.      Standar Biaya Bahan Baku
Biaya bahan baku standar adalah biaya bahan baku persatuan yang seharusnya terjadi dalam pengolahan satu satuan produk. Dalam menentukan biaya bahan baku standar ada dua faktor yaitu Kuantitas Standar Bahan Baku dan Harga Standar Bahan Baku.
a.       Harga Standar Bahan Baku
Harga standar bahan baku adalah harga bahan baku persatuan yang seharusnya terjadi di dalam pembelian bahan baku. Di dalam menentukan harga standar bahan baku meliputi harga faktur bahan baku dikurangi potogan pembelian bahan baku apabila ada, di tambah biaya-biaya lainnya dalam rangka pengadaan bahan baku sampai siap di pakai dengan mempertimbangkan faktor kepraktisan dan perlakuannya.
b.      Kuantitas Standar Bahan Baku
Kuantitas standar bahan baku adalah jumlah kuantitas bahan baku yang seharusnya di pakai dalam pengolahan satu satuan produk tertentu. Dalam menentukan standar kuantitas harus diperhitungkan kemungkinan produk rusak (spoiled), produk cacat (defective), maupun sisa bahan di dalam pengolahan yang sifatnya normal.

2.      Standar Biaya Tenaga Kerja Langsung
Biaya tenag kerja langsung standar adalah biaya tenaga kerja langsung yang seharusnya terjadi di dalam pengolahan satu satuan produk. Di dalam menetapkan biaya tenaga kerja langsung standar ada 2 (dua) faktor yaitu Tarif Standar Upah Langsung dan Jam Standar Kerja.
a)      Tarif standar upah langsung adalah tarif upah yang seharusnya terjadi untuk setiap satuan pengupahan. Misalnya : upah per jam, upah per potong di dalam pengolahan produk tertentu (Supriyono, 2000:107);dan
b)      Jam standar kerja adalah jam atau waktu kerja yang seharusnya dipakai di dalam pengolahan satu satuan produk. Di dalam penentuan jam atau waktu kerja standar harus menuju kepada tingkat efisiensi maksimum, tetapi masih memungkinkan atau secara wajar dapat dicapai oleh karyawan langsung (Supriyono, 2000:108).

3.      Standar Biaya Overhead Pabrik
Biaya overhead pabrik adalah biaya overhead pabrik yang sebenarnya terjadi di dalam mengolah satu satuan produk.
6.4.2    Anggaran Fleksibel
Pengertian Anggaran Fleksibel menurut Munandar (2000:1) yang dimaksud dengan Business Budget atau Budget (anggaran) adalah suatu rencana yang di susun secara sistematis, yang meliputi seluruh kegiatan perusahaan, yang dinyatakan dalam unit (kesatuan) moneter dan berlaku untuk jangka waktu (periode) tertentu yang akan datang.
Samryn (2001:226) berpendapat bahwa Anggaran Fleksibel merupakan suatu bentuk anggaran yang dirancang untuk mengcover suatu range aktivitas dan yang dapat digunakan  untuk membuat beberapa anggaran level biaya dalam kisaran yang dapat dibandingkan dengan biaya yang sesungguhnya terjadi.
a.       Anggaran Produksi
Anggaran produksi menurut Halim dan Supomo (1990:153) memuat tentang rencana unit yang di produksi selama periode anggaran. Taksiran produksi ditentukan berdasarkan rencana penjualan dan persediaan yang diharapkan. Dasar penyusunan anggaran biaya produksi, yaitu anggaran biaya bahan baku, anggaran biaya tenaga kerja langsung dan anggaran biaya overhead pabrik.
b.      Anggaran Biaya Bahan Baku
Anggaran biaya bahan baku menurut Munandar (2000:134) merupakan anggaran yang merencanakan secara lebih terperinci tentang biaya bahan baku untuk di produksi selama periode yang akan datang. Ada 13 diantaranya yang di dalamnya meliputi rencana tentang jenis (kualitas) bahan baku yang diolah, jumlah (kuantitas) bahan baku yang diolah, dan waktu (kapan) bahan baku tersebut diolah dalam proses produksi.
c.       Anggaran Biaya Tenaga Kerja Langsung
Anggaran biaya tenaga kerja langsung merupakan anggaran yang merencanakan secara lebih terperinci tentang upah yang akan dibayarkan kepada para tenaga kerja langsung selama periode yang akan datang, yang di dalamnya meliputi rencana tentang jumlah waktu yang diperlukan oleh para tenaga kerja langsung untuk menyelesaikan unit yang akan di produksi, tarif upah yang akan dibayarkan kepada para tenaga kerja langsung dan waktu (kapan) yang akan dihasilkan, serta tempat (departemen) dimana para tenaga kerja langsung tersebut akan bekerja.
d.      Anggaran Biaya Overhead Pabrik
Anggaran biaya overhead pabrik merupakan anggaran yang merencanakan secara lebih terperinci tentang beban biaya pabrik tidak langsung selama periode yang akan datang, yang didalamnya meliputi rencana jenis biaya pabrik tidak langsung, jumlah biaya pabrik tidak langsung dan waktu (kapan) biaya pabrik tidak langsung tersebut dibebankan, yang masing-masing dikaitkan dengan tempat (departemen) dimana biaya pabrik tidak langsung tersebut terjadi.
Anggaran dan biaya standar merupakan dua penentuan biaya yang ditentukan di muka yang mempunyai perbedaan pada cara penentuannya. Anggaran digunakan untuk menentukan seluruh biaya yang akan terjadi selama periode tertentu. Sedangkan biaya standar digunakan untuk menentukan biaya dalam satu unit atau sejumlah unit tertentu. Penentuan biaya di muka dalam penelitian ini menggunakan biaya standar sebagai alat pengendalian biaya karena secara teknis biaya standar lebih tepat digunakan untuk mengendalikan biaya produksi. Komponen biaya standar yang digunakan adalah standar biaya bahan baku dan standar biaya tenaga kerja langsung.
·         Anggaran Fleksibel sebagai Alat Perencanaan dan Pengendalian
Anggaran fleksibel adalah suatu anggaran yang penyusunannya dikelompokkan pada berbagai tingkat kegiatan. Anggaran fleksibel memisahkan antara biaya variable dengan biaya tetap, sebab biaya variable akan bervariasi jumlahnya sebanding dengan variasi kegiatan, sehingga harus dipisahkan jumlahnya antar berbagai tingkat kegiatan, sedang biaya tetap tidak perlu dikelompokkan untuk masing-masing tingkat kegiatan karena jumlah biaya tetap tidak di pengaruhi oleh penambahan kegiatan.
Untuk kepentingan pengendalian, anggaran fleksibel lebih tetap digunakan disbanding anggaran tetap, sebab analisis dengan anggaran fleksibel akan menunjukkan penghematan dan pemborosan biaya pada tingkat kegiatan sesungguhnya, sehingga apabila realisasi menunjukkan tingkat kapasitas 90.000 unit, maka alat perencanaan (anggaran) untuk evaluasi digunakan anggaran pada kapasitas yang sama yaitu 90.000 unit.
Anggaran tetap tidak tepat untuk pengendalian biaya-biaya yang bersifat fluktuatif dengan kegiatan karena akan keliru memberikan evaluasi. Anggaran tetap hanya tepat untuk mengendalikan biaya-biaya tertentu saja seperti biaya riset dan pengembangan, karena biaya ini di anggarkan hanya pada tingkat pengeluaran maksimum, selain itu biaya seperti riset dan pengembangan di ikuti dan dihubungkan dengan hasilnya.
Anggaran fleksibel sebagai alat pengendalian akan memberikan informasi, seberapa besar efektivitas pengeluaran biaya pada kegiatan yang telah di jalankan. Akhirnya anggaran fleksibel tidak akan memberikan informasi yang salah dengan mencantumkan biaya dan pendapatan sesuai dengan kapasitas yang di realisasi, karena penanggung jawab biaya akan di evaluasi pada tingkat pengawasan yang riil dan masuk akal.
·         Kegunaan dari Anggaran Fleksibel
Anggaran ini mengaitkan volume aktivitas dengan jumlah rupiah yang di anggarkan. Bermanfaat terutama dalam menaksir dan  mengendalikan biaya pabrik dan beban operasi. Adapun kegunaan dari anggaran fleksibel ini adalah sebagai berikut :
a.       Dapat di pakai untuk merumuskan anggaran sebelum adanya data taksiran tingkat aktivitas;
b.      Dapat di pakai setelah adanya data untuk menghitung berapa seharusnya biaya untuk tingkat aktivitas actual;dan
c.       Membantu manajemen dalam menghadapi ketidakpastian dengan mengandalkan mereka untuk melihat taksiran hasil dalam kisaran aktivitas tertentu.
6.5       Dampak Penerapan Sistem Biaya Standar Pada Sistem Penganggaran Perusahaan Manufaktur
·         Biaya-biaya pada perusahaan manufaktur menjadi lebih terkendali.
·         Informasi pengendalian biaya pada perusahaan manufaktur dapat sesegera mungkin dilaporkan.
·         Sistem biaya standar dirancang untuk mengendalikan biaya.
·         Sistem biaya standar memberikan pedoman kepada manajemen berapa biaya yang seharusnya untuk melaksanakan kegiatan tertentu.
·         Sistem biaya standar menyajikan analisis penyimpangan biaya sesungguhnya dan biaya standar.
6.6       Cara Menentukan Biaya Standar untuk Bahan Baku, Tenaga Kerja, dan FOH
1.      Prosedur Penentuan Biaya Bahan Baku Standar
Biaya bahan baku standar terdiri dari:
-           Kuantitas standar
-          Harga standar.
Kuantitas standar bahan baku ditentukan dengan menggunakan;
-          Penyelidikan khusus
-          Analisis catatan masa Ialu.
Harga yang dipakai sebagai standar dapat berupa;
-          Harga yang diperkirakan akan berlaku di masa yang akan datang
-          Harga yang berlaku pada saat penyusunan standar
-          Harga yang diperkirakan akan merupakan harga normal dalam jangka panjang
2.      Prosedur Penentuan Biaya Tenaga Kerja Standar
Biaya tenaga standar terdiri dari  dua unsur yaitu jam tenaga kerja standar dan tarif upah standar.
Jam tenaga standar dapat ditentukan dengan cara;
·         Menghitung rata-rata jam kerja yang dikonsumsi dalam suatu pekerjaan masa lalu Membuat test-run operasi produksi di bawah keadaan normal yang diharapkm
·         Mengadakan penyelidikan gerak dan waktu dari berbagai kerja karyawan di bawah keadaan nyata yang diharapkan.
·         Mengadakan taksiran yang wajar, didasarkan pada pengalaman dan pengetahuan operasi produksi dan produk.
Tarif upah standar dapat ditentukan atas dasar
·         Perjanjian dengan organisasi karyawan .
·         Data upah masa lalu.
·         Penghitungan tarif upah dalam keadaan operasi normal.
3.      Prosedur Penentuan Biaya Overhead Pabrik
Menurut Supriono di dalam pabrik yang menggunakan tarif tunggal, biaya overhead standar ditentukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a.       Penentuan anggaran biaya overhead pabrik. Pada awal periode disusun aggaran untuk setiap elemen biaya overhead pabrik yang digolongkan ke dalam biaya tetap dan biaya variabel, dan lebih baik dalam anggaran fleksibel.
b.      Penentuan dasar pembebanan dan tingkat kapasitas. Setelah anggaran biaya overhead pabrik disusun, maka untuk menghitung tarif standar ditentukan dasar pembebanan dan tingkat kapasitas.
c.       Perhitungan tarif standar biaya overhead pabrik. Tarif standar biaya overhead pabrik dihitung sebesar anggaran biaya overhead pabrik dibagi tingkat kapasitas yang dapakai. Untuk tujuan analisa selisih biaya overhead pabrik maka tarif standar biaya overhead pabrik dihitung untuk tarif total, tarif tetap dan tarif variable (2000: 96).
6.7       Jenis Penyimpangan, Pembelian dan Pemakaian, teker (Rate/tarif/ jam), FOH 2 selisih, 3 selisih, 4 Selisih
v  Analisis Selisih Biaya Produksi Langsung
Ada 3 model analisis selisih biaya produksi langsung :
1.      Model Sam Selisih (The One-Way Model)
Dalam model ini, selisih antara biaya sesungguhnya dengan biaya standar tidak dipecah kedalam selisih harga dan selisih kuantitas, tetapi hanya ada satu macam selisih yang merupakan gabungan antara selisih harga dengan selisih kuantitas.
St = (HSt x KSt) – (HS x KS)
Hasil perhitungan selisih diberi tanda L (selisih Laba) dan R (selisih Rugi). Analisis selisih dalam model ini dapat digambarkan dengan rumus berikut ini :

Diketahui :
St = Total Selisih
Hst = Harga Standar
Kst = Kuantitas Standar
HS = Harga Sesungguhnya
KS = Kuantitas Sesungguhnya

2.      Model Dua Selisih (The Two-Way Model)
Selisih antara biaya sesungguhnya dengan biaya standar dipecah menjadi 2 macam selisih, yaitu selisih harga dan selisih kuantitas atau etisiensi.


Rumus perhitungan selisih dapat dinyatakan sebagai berikut :

Perhitugan Selisih Harga                           Perhitungan Selisih Kuantitas
SK = (KSt - KS) x HSt
SH = (HSt - HS) x KS
 


Diketahui :
SH = Selisih Harga                                   SK = Selisih Kuantitas 
Hst = Harga Standar                                 Ks =  Kuantitas Standar
HS = Harga Sesungguhnya                       KS = KuantitasSesungguhnya
3.      Model tiga Selisih (The Three-Way Model)
Selisih antara biaya standar dengan biaya sesungguhnya dipecah menjadi 3 macam selisih berikut ini:  Selisih Harga, Selisih kuantitas, Selisih Harga / Kuantitas.
Hubungan harga dan kuantitas sesunggulmya dapat terjadi dengan kemungkinan berikut ini:
a.       Harga dan Kuantitas Standar masing-masing lebih tinggi atau lebih rendah dari harga dan kuantitas sesungguhnya.
SH = (HSt – HS) x KSt
Rumus perhitungan selisih harga dan kuantitas dalam kondisi Harga Standar dan Kuantitas Standar masing-masing “ Lebih Rendah “ dan Harga Sesungguhnya dan Kuantitas Sesungguhnya, dinyatakan dalam persamaan berikut ini :
Perhitungan Selisih Harga
SK = (KSt - KS) x HSt
Perhitungan Selisih Kuantitas
SHK = (HSt - HS) x (KSt – KS)
 Perhitungan Selisih Gabungan yang merupakan Selisih Harga/ Kuantitas
SH = (HSt – HS) x KSt
Rumus perhitungan selisih harga dan kuantitas dalam kondisi Harga Standar dan Kuantitas Standar masing-masing " Lebih Tinggi ” dari Harga Sesungguhnya dan Kuantitas Sesungguhnya, dinyatakan dalam persamaan berikut ini :
Perhitungan Selisih Harga
SK = (KSt - KS) x HS
Perhitungan Selisih Kuantitas
SHK = (HSt - HS) x (KSt – KS)
 Perhitungan Selisih Gabungan yang merupakan Selisih Harga/ Kuantitas
b.      Harga Standar “ Lebih Rendah “ dari Harga Sesungguhnya namun sebaliknya kuantitas standar “ Lebih Tinggi” dari kunatitas sesungguhnya.
Selisih gabungan yang merupakan selisih harga / kuantitas tidak akan terjadi. Dengan demikian perhitungan selisih harga dan kuantitas dalam kondisi seperti ini dengan model 3 selisih dilakukan dengan rumus sebagai berikut :
SH = (HSt – HS) x KS
Perhitungan Selisih Harga
SK = (KSt - KS) x HS
Perhitungan Selisih Kuantitas
                        Selisih harga / kuatitas sama dengan nol
c.       Harga Standar “ Lebih Tinggi “ dari Harga Scsungguhnya, namun sebaliknya Kuantitas Standar ” Lebih Rendah “ dari Kuantitas Sesungguhnya.
SH = (HSt – HS) x KSt
Selisih gabungan tidak akan terjadi. Perhitungan selisih dengan model 3  selisih dilakukan dengan rumus sebagai berikut :
Perhitungan Selisih Harga
SK = (KSt - KS) x HS
Perhitungan Selisih Kuantitas
Selisih harga / kuatitas sama dengan nol

CONTOH SOAL
PT. CAHAYA MENTARI pada tahun 1996 memproduksi produk jadi sebanyak 120.000 unit. Bahan baku yang dibeli dari pemasok sebanyak 750.000 kg, sedangkan yang digunakan dalam proses produksi sebanyak 700.000 kg.
Dalam menghasilkan produk, ditetapkan standar kuantitas bahan baku sebanyak 6 kg/ unit dengan standar harga Rp. 2.150 / kg, lalu ditentukan pula standar efisiensi tenaga kerja langsung 3 jam / unit dengan standar tarif upah Rp. 2.400/ jam . Namun kenyataan yang terjadi, harga bahan baku sesungguhnya hanya Rp. 2.100/ kg dengan jumlah Jam tenaga kerja sesungguhnya selama 365.000 jam dengan tarif Rp. 2.500 / jam.
Diminta Carilah :
1.      Selisih harga bahan baku.
2.      Selisih kuantitas bahan baku.
3.      Selisih efisiensi tenaga kerja langsung.
4.      Selisih Tarif tenaga kerja langsung
5.      Jurnal untuk mencatat gaji dan upah yang harus dibayar serta pengalokasian selisih gaji dan upah dengan mengabaikan pajak atas gaji dan upah.
PENYELESAIAN :
1.      Selisih Harga Bahan Baku :
Selisih Harga   = ( Harga Ssg - Harga Std) x Kuantitas Ssg 
                             = ( Rp2.100 – Rp2.150 ) x 750.000
= Rp37.500.000 (Laba)
2.      Selisih kuantitas bahan baku:
Selisih Kuantitas         = [ Kuntitas SSg – Kuantitas Std yang ditetapkan] x harga Std
                                    = [ 700.000 – (6 x 120.000)] x Rp2.150
                                    = Rp43.000.000 (Laba)
3.      Selisih Efisiensi jam tenaga kerja :
Selisih jam kerja          =[Jam SSg – Jam Kerja Std yang ditetapkan] x Tarif Upah Std
                                    = [ 365.000 – (3 x 120.000)] x Rp2.400
                                    = Rp12.000.000 (Rugi)
4.      Selisih Tarif Upah Tenaga Kerja Langsung:
Selisih Tarif Upah       =[Tarif Upah SS –Tarif Upah Std] x Jam Kerja Ssg
                                    = [ Rp2.500 – Rp2.400] x Rp365.000
                                    = Rp36.500.000 (Rugi)
5.      Jurnal untuk mencatat gaji dan upah yang harus dibayar:
Gaji dan Upah (2.500 x 365.000)       Rp912.500.000           -
Berbagai perkiraan hutang                  -           Rp912.500.000
            Jurnal untuk mengalokasikan gaji dan upah serta selisih-selisihnya:
            Barang dalam proses (360.000 x 2.400)         Rp864.000.000           -
            Selisih efisiensi TK Langsung             Rp  12.000.000           -
            Selisih tarif TL langsung                                 Rp  36.500.000           -
                        Gaji dan Upah                                                 -           Rp912.500.000
SOAL LATIHAN :
KASUS 1
PT. SINAR REMBULAN dalam mengolah produknya manggunakan 2 macam bahan baku untuk produk A. Berikut data-data mangenai bahan baku X dan Y untuk tahun I996. Data-data Harga Standar (STD) dan Harga Sesangguimya (SSG): 
Bulan
Bahan X
Bahan Y
STD
SSG
STD
SSG
Jan
1.200
1.220
750
770
Feb
1.200
1.250
750
770
Mar
1.225
1.250
750
770
Apr
1.225
1.250
750
770
Mei
1.225
1.250
750
770
Jun
1.225
1.250
750
770
Jul
1.225
1.250
780
810
Ags
1.225
1.250
780
810
Sep
1.225
1.250
780
810
Okt
1.240
1.300
780
810
Nov
1.240
1.300
780
810
Des
1.240
1.300
780
810
            Data-data Kuantitas Pemakaian Standar (STD) dan Pemakaian Sesungguhnya (SSG)
Bulan
Bahan X
Bahan Y
STD
SSG
STD
SSG
Jan
1.500
1.550
2.700
2.850
Feb
1.500
1.550
2.700
2.800
Mar
1.500
1.600
2.700
2.800
Apr
1.500
1.570
2.700
2.825
Mei
1.500
1.570
2.700
2.800
Jun
1.500
1.570
2.700
2.850
Jul
1.500
1.600
2.700
2.825
Ags
1.500
1.600
2.700
2.850
Sep
1.500
1.575
2.700
2.850
Okt
1.500
1.550
2.700
2.870
Nov
1.500
1.600
2.700
2.870
Des
1.500
1.575
2.700
2.870
            Diminta:
1.      Hitung selisih harga bahan baku X dan Y untuk tahun 1996
2.      Hitung selisih bahan kuantitas bahan baku X dan Y untuk tahun 1996
JAWAB:
KASUS 1
PT. SINAR REMBULAN
1.      Hitung selisih harga bahan baku X dan Y untuk tahun 1996
            Tabel 1. Selisih Harga Bahan Baku X
Bulan
Kuantitas Sesungguhnya (Kg)
Harga Standar    (Rp)
Harga Sesungguhnya (Rp)
Selisih   (Rp)
Jan
1.550
1.200
1.220
31.000
Feb
1.550
1.200
1.250
77.500
Mar
1.600
1.225
1.250
40.000
Apr
1.570
1.225
1.250
39.250
Mei
1.570
1.225
1.250
39.250
Jun
1.570
1.225
1.250
39.250
Jul
1.600
1.225
1.250
40.000
Ags
1.600
1.225
1.250
40.000
Sep
1.575
1.225
1.250
39.375
Okt
1.550
1.240
1.300
93.000
Nov
1.600
1.240
1.300
96.000
Des
1.575
1.240
1.300
94.500



Jumlah
669.125
            Tabel 2. Selisih Harga Bahan Baku Y
Bulan
Kuantitas Sesungguhnya (Kg)
Harga Standar    (Rp)
Harga Sesungguhnya (Rp)
Selisih   (Rp)
Jan
2.850
750
770
57.000
Feb
2.800
750
770
56.000
Mar
2.800
750
770
56.000
Apr
2.825
750
770
56.500
Mei
2.800
750
770
56.000
Jun
2.850
750
770
57.000
Jul
2.825
780
810
84.750
Ags
2.850
780
810
85.500
Sep
2.850
780
810
85.500
Okt
2.870
780
810
86.100
Nov
2.870
780
810
86.100
Des
2.850
780
810
85.500



Jumlah
851.950
2.      Selisih Kuantitas Bahan Baku
Tabel 1. Selisih Kuantitas Bahan Baku X
Bulan
Kuantitas Sesungguhnya (Kg)
Harga Standar    (Rp)
Harga Sesungguhnya (Rp)
Selisih   (Rp)
Jan
1.200
1.500
1.550
60.000
Feb
1.200
1.500
1.550
60.000
Mar
1.225
1.500
1.600
122.500
Apr
1.225
1.500
1.570
85.750
Mei
1.225
1.500
1.570
85.750
Jun
1.225
1.500
1.570
85.750
Jul
1.225
1.500
1.600
122.500
Ags
1.225
1.500
1.600
122.500
Sep
1.225
1.500
1.575
91.875
Okt
1.240
1.500
1.550
62.000
Nov
1.240
1.500
1.600
124.000
Des
1.240
1.500
1.575
93.000



Jumlah
1.115.625
Tabel 2. Selisih Kuantitas Bahan Baku Y
Bulan
Harga Standar    (Rp)
Kuantitas Standar    (Rp)
Kuantitas Sesungguhnya (Rp)
Selisih   (Rp)
Jan
750
2.700
2.850
112.500
Feb
750
2.700
2.800
75.000
Mar
750
2.700
2.800
75.000
Apr
750
2.700
2.825
93.750
Mei
750
2.700
2.800
75.000
Jun
750
2.700
2.850
112.500
Jul
780
2.700
2.825
97.500
Ags
780
2.700
2.850
117.000
Sep
780
2.700
2.850
117.000
Okt
780
2.700
2.870
132.600
Nov
780
2.700
2.870
132.600
Des
780
2.700
2.870
132.600



Jumlah
1.273.050

KASUS 2
PT GEMERLAP BINTANG pada tahun 1995 memproduksi produk jadi sebanyak 20.000 unit, Bahan baku yang dibeli dari pemasok sebanyak 70.000 kg sedangkan yang digunakan dalam proses produksi sebanyak 60.000 kg.
Dalam menghasilkan produk, ditetapkan standar kuantitas bahan baku sebanyak 4 kg / unit dengan standar harga Rp. 1.100/ kg, lalu ditentukan pula standar eftsiensi tenaga kerja langsung 2 jam/ unit dengan standar tarif upah Rp. 4.600/ jam . Namun kenyataan yang terjadi, harga bahan baku sesungguhnya hanya Rp. 1.050/kg dengan jumlah jam tenaga kerja sesugguhnya selama 41.800 jam dengan tarif Rp. 4.800/jam.
Dimima :
1.      Selisih harga bahan baku.
2.      Selisih kuantitas bahan baku.
3.      Selisih efisiensi tenaga kerja langsung.
4.      Selisih Tarif tenaga kerja langsung
5.      Jurnal untuk mencatat gaji dan upah yang harus dibayar serta pengalokasian selisih gaji dan upah.
Jawab:
KASUS 2
PT. GEMERLAP BINTANG
1.      Selisih harga bahan baku.
Selisih Harga               = (Harga Ssg - Harga Std) x Kuantitas Ssg
                                    = (Rp1.050 – Rp1.100) x 70.000
                                    = Rp3.500.000 (Laba)
2.      Selisih kuantitas bahan baku.
Selisih Kuantitas         = [Kuantitas Ssg - Kuantitas Std yang ditetapkan] x Harga Std
                                    = [60.000 – (4 x 20.000)] x Rp1.100
                                    = Rp22.000.000 (Laba)
3.      Selisih efisiensi tenaga kerja langsung.
Selisih Jam Kerja= [Jam Kerja Ssg – Jam Kerja Std yang ditetapkan] x Tarif Upah Std
                            = [41.800 – (2 x 20.000)] x Rp4.600
                            = Rp8.280.000 (Rugi)
4.      Selisih Tarif tenaga kerja langsung
Selisih Tarif Upah       = [Tarif Upah Ssg – Tarif Upah Std] x Jam Kerja Ssg
                                    = [Rp4.800 – Rp4.600] x 41.800
                                    = Rp8.360.000 (Rugi)
5.      Jurnal untuk mencatat gaji dan upah yang harus dibayar
Gaji dan Upah (4.800 x 41.600)                     Rp200.640.000           -
Berbagai perkiraan hutang                              -           Rp200.640.000
Jurnal mengalokasikan gaji dan upah serta selisih-selisihnya.
            Barang dalam proses (40.000 x 4.600)           Rp184.000.000           -
            Selisih efisiensi TK langsung                          Rp    8.280.000           -
            Selisih tarif TL langsung                                 Rp    8.360.000           -
                        Gaji dan Upah                                                 -           Rp200.640.000

KASUS 3
CV. CAHAYA MENTARI yang berproduksi dengan 2 jenis bahan baku dan memiliki 2 dept. produksi dimana Bahan Baku hanya dipakal pada Dept. I dan BOP pada Dept. II. Biaya standar untuk mentukan biaya produksi berdasarkan data-data sebagai berikut :
a.       Harga bahan distandarkan Rp. 100/kg untuk bahan A dan Rp. 400/kg untuk bahan B ditambah biaya penanganan masing-masing 10%. Untuk membuat satu unit produk jadi diperlukan 2,5 kg bahan A dan 2 kg bahan B.
b.      Jumlah tenaga kerja yang menangani langsung produksi adalah 40 orang di Dept. I dan 100 orang di Dept. II, dimana diperkirakan tiap pekerja bisa bekerja efektif 35 jam/minggu. Upah dan gaji total per minggu Dept. I Rp. 280.000 dan Dept. II Rp875.000 ditambah 20% sebagai cadangan premi lembur dan premi lain-lain. Dalam dept. I bahan diolah selama 2,5 jam dan dalam dept. II selama 2 jam.
c.       Kapasitas normal produksi adalah 1.000 unit (100%) atau 4.000 jam mesin dengan batas terendah produksi 80% dan kapasitas penuh 120%. BOP yang terdiri dari overhead tetap dan variabel pada kapasitas normal adalah:
Variabel                       Tetap
Upah pegawai                                                 Rp320.000                  -
Bahan pembantu                                 Rp140.000                  -
Lain-lain                                              Rp   20.000                 -
Penyusutan Mesin                               -                                   Rp190.000
Listrik                                                  -                                   Rp50.000
Pemeliharaan, dll                                 -                                   Rp80.000
            Dari data-data tersebut anda diminta untuk menyusun biaya standar per unit produk jadi dan fleksibel buget untuk BOP pada kapasitas 80%,100%,120%.
JAWABAN :
KASUS 3
PT. CAHAYA MENTARI
Penyusunan Biaya Standar Bahan Baku per Unit Produk :
Bahan A                      Bahan B
 l. Harga bahan per unit (kg)                           Rp. 100                       Rp. 400
2. Biaya penanganan bahan                            10 %                            10 %
3. Kebumhan bahan                                        2,5 kg                          2 kg
4. Harga standar bahan per kg                        Rp. 110                       Rp. 440 *)
5. Biaya standar bahan                                    Rp. 275 **)                 Rp. 1.100,
6. Biaya standar bahan baku
    (Rp. 275+ Rp 1.100) = Rp. 1.375
*) Rp 400+(10% x 400)=Rp.440
**) 2.5 kg x  Rp110= Rp275

Penyusutan Biaya Standar Upah Langsung per Unit Produk
Dept. I                         Dept. II
1. Tenaga Kerja                                               40                                100
2. Jam kerja per minggu / orang                      35                                35
3. Jumlah jam kerja / minggu (1 x 2)               1.400                           3.500
4. Jumlah biaya per minggu                            Rp280.000                  Rp875.000
5. Biaya per jam                                              Rp200                         Rp250
6. Cadangan Premi 20%                                 Rp40                           Rp50
7. Biaya per jam total (5 + 6)                          Rp240                         Rp300
8. Kebutuhan jam kerja                                   2,5                               2
9. Biaya standar upah
            (2,5 x Rp240) + (2 x 300) = Rp1.200/unit
Penyusutan Biaya Standar Overhead Pabrik per Unit Produk :
Jenis Biaya
80%
100%
120%
Total (Rp)
Per Jam (Rp)
Total (Rp)
Per Jam (Rp)
Total   (Rp)
Per Jam (Rp)
Biaya variabel






Upah pengawas
256.000
80
320.000
80
284.000
80
Bahan
112.000
35
140.000
35
168.000
35
Pembantu
16.000
5
20.000
5
24.000
5
Lain-lain







384.000
120
480.000
120
576.000
120
Biaya tetap






Peny mesin
190.000

190.000

190.000

Listrik
50.000

50.000

50.000

pemeliharaan
80.000

80.000

80.000


320.000

320.000

320.000

Jumlah Biaya
704.000

800.000

896.000

Biaya standar overhead pabrik dibuat pada kapasitas normal dimana:
BOP/jam =  = Rp 120         BOP Tetap =  = Rp80
 


1 komentar: