body{display:block; -khtml-user-select:none; -webkit-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; -o-user-select:none; user-select:none; unselectable:on;}
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh

Sabtu, 22 Oktober 2016

PENENTUAN BIAYA PRODUK BERSAMA (Akuntansi Biaya)




8.1 Definisi Produk Bersama dan Produk Sampingan
Dari suatu proses produksi yang dilaksanakan dalam perusahaan tertentu dapat dihasilkan beberapa jenis produk dalam waktu bersamaan. Sebagai contoh: proses produksi yang terjadi pada perusahaan pengilangan minyak, pemrosesannya akan menghasilkan bensin, minyak pelumas, minyak solar, minyak tanah, dan aspal. Contoh lain: pada perusahaan kimia, gula, tambangan, pemotongan hewan, penggilingan padi, pada proses bahan baku yang sama diolah melalui proses produksi bersama / proses bersama (joint product process/joint process) yang menghasilkan beberapa jenis produk (joint product).
Dalam pelaksanaan proses produksi bersama, terdapat hubungan tertentu mengenai jumlah unit produk-produk yang dihasilkan. Apabila jumlah produksi produk tertentu ditambah, maka jumlah produksi barang yang lain ikut bertambah, begitu sebaliknya.
Berdasarkan nilai jual relatif (relative sales value), produk bersama dikelompokkan menjadi dua jenis, yaitu:
·         Produk Utama (Main Product), yaitu produk yang mempunyai nilai jual relatif lebih tinggi daripada nilai jual produk sampingan.
·         Produk Sampingan (By-Product), yaitu produk yang mempunyai nilai relatif lebih rendah
daripada nilai jual produk utama.
Produksi Bersama dan Biaya Bersama
Produk Utama Relatif Bernilai Tinggi
Contoh: Beras
Produk Sampingan Relatif Bernilai Rendah
Contoh: Dedak/Katul
Titik Pisah
 










Peraga 8.1
Produk Utama dan Produk Sampingan


Sebagai contoh, dalam perusahaan penggilingan padi, beras adalah produk utama, sedangkan dedak atau katul adalah produk sampingan. Untuk kepentingan perhitungan biaya produk utama dan biaya produk sampingan perlu dilakukan alokasi biaya bersama (joint cost) kepada masing-masing produk. Tujuannya yaitu untuk kepentingan perhitungan biaya produk. Biaya produk tersebut seanjutnya digunakan untuk kepentingan penilaian persediaan dan penentuan laba.
Dalam pelaksanaan proses produksi bersama, terdapat titik pisah (split-off point) yaitu tahapan dalam proses produksi pada saat beberapa produk dapat diidentifikasi secara jelas. Setelah titik pisah dapat diketahui adanya produk utama dan produk sampingan.

8.2 Definisi Biaya Bersama dan Produk Bersama
Biaya Bersama (Joint Cost) adalah biaya yang dikeluarkan sejak saat mula-mula bahan baku diolah sampai dengan saat berbagai macam produk dapat dipisahkan identitasnya. Biaya bersama harus dialokasikan ke berbagai departemen, baik dalam perusahaan yang kegiatan produksinya berdasarkan pesanan maupun yang kegiatan produksinya dilakukan secara massal. Terdiri atas: biaya bahan baku, biaya tenaga kerja dan biaya overhead pabrik. Biaya ini dikeluarkan untuk mengolah bahan baku menjadi produk bersama.
Produk Bersama (Joint Product) adalah dua produk atau lebih yang diproduksi secara serentak dengan serangkaian proses atau dengan proses bersama. Dari suatu proses bersama akan dihasilkan beberapa produk produk berupa produk utama dan produk sampingan.
Produk Utama adalah satu produk atau lebih yang nilai jualnya (kuantitas dikalikan dengan harga jual per satuan) relatif lebih tinggi, yang diproduksi bersama dengan produk lain yang nilai jualnya relatif lebih rendah. Produk Sampingan adalah satu produk atau lebih yang nilai jualnya relatif lebih rendah, yang diproduksi bersama dengan produk lain yang nilai jualnya relatif lebih tinggi. Perbedaan antara produk utama dan produk sampingan didasarkan pada nilai jual relatifnya. Jika nilai jual produk yang dihasilkan dianggap material  dibandingkan seluruh pendapatan perusahaan, produk tersebut merupakan produk utama. Jika nilai jual salah satu produk relatif kecil dibandingkan total pendapatan perusahaan, produk tersebut merupakan produk sampingan. Perbedaan dasar kriteria nilai jual tersebut memungkiankan produk yang ada pada suatu saat diperlakukan sebagai produk sampingan dan pada saat yang lain diperlakukan sebagai produk utama.


8.3 Karakteristik Produk Utama dan Produk Sampingan
Produk utama memiliki beberapa karakteristik:
1.      Merupakan tujuan utama kegiatan produksi.
2.      Harga jual relatif lebih tinggi dibandingkan dengan produk sampingan yang dihasilkan pada saat yang sama.
3.      Dalam mengolah produk bersama produsen tidak dapat menghindari untuk menghasilkan semua jenis produk yang bersama. Contoh dalam perusahaan daging kalengan, setiap melakukan penyembelihan sapi maka akan diperoleh daging, tulang dan kulit. Jadi produsen tidak hanya mengolah daging (produk utama) melainkan memanfaatkan tulang dan kulitnya untuk dijadikan produk sampingan.

Produk sampingan memiliki karakteristik:
1.      Bukan merupakan tujuan utama kegiatan produksi.
2.      Harga jual produk sampingan relatif lebih rendah dibandingkan produk utama.
Produk sampingan dapat digolongkan sesuai dengan dapat tidaknya produk tersebut dijual pada saat terpisah dari produk utamanya. Dapat dirinci sebagai berikut.
1.      Produk sampingan dapat dijual langsung setelah terpisah dari produk utama tanpa memerlukan proses lebih lanjut. Contoh: proses penggilingan gabah. Produk sampingan berupa menir, katul, dan dedak.
2.      Produk sampingan yang memerlukan proses pengolahan lebih lanjut setelah terpisah dari produk utama. Contoh: proses penyembelihan sapi. Produk sampingan berupa kulit dapat diolah menjadi rambak (bahan pembuat tas), sepatu dan dompet.

8.4 Akuntansi Produk Bersama
Perusahaan yang menghasilkan produk bersama umumnya menghadapi masalah pemasaran berbagai macam produknya karena masing-masing produk mempunyai masalah pemasaran dan harga jual yang berbeda-beda. Oleh karena itu, perlu diketahui seteliti mungkin bagian dari seluruh biaya produksi yang dibebankan kepada masing-masing produk bersama sehingga masalah pokok akuntansi biaya brsama adalah penentuan proporsi total biaya produksi yang harus dibebankan kepada berbagai macam produk bersama.
Dapat menggunakan salah satu dari empat metode berikut ini.
1.      Metode  nilai pasar atau metode nilai jual relatif.
2.      Metode rata-rata biaya per satuan.
3.      Metode rata-rata tertimbang.
4.      Metode unit kuantitatif atau metode satuan fisik.

1.   Metode Nilai Pasar
Metode yang paling banyak digunakan oleh perusahaan karena  harga jual atau nilai jual produk merupakan perwujudan dari biaya-biaya yang dikeluarkan dalam mengolah produk tersebut. Didasarkan atas asumsi bahwa masing-masing  produk yang dihasilkan dalam proses produksi bersama memiliki nilai jual atau nilai pasar yang berbeda yang disebabkan oleh adanya perbedaan tingkat konsumsi atau pemakaian biaya yang berbeda. Oleh karena itu produk yang mengonsumsi biaya yang lebih tinggi memiliki nilai jual yang lebih tinggi, begitupun sebaliknya untuk produk yang mengonsumsi biaya yang lebih rendah memiliki nilai jual yang lebih rendah. Metode ini merupakan cara pengalokasian yang bersifat logis dan rasional.

Contoh:
PT Abadi Buana Citra adalah perusahan yang bergerak dalam usaha pengilangan minyak. Biaya bersama dalam proses pengilangan minyak sebesar Rp 1.000.000. Proses produksi bersama menghasilkan bensin sebanyak 40.000 liter, minyak pelumas sebanyak 35.000 liter, dan minyak tanah sebanyak 25.000 liter. Harga jual masing-masing produk per liter setelah titik pisah adalah bensin Rp 1.000, minyak pelumas Rp 750, dan minyak tanah Rp 500. Berdasarkan data tersebut dapat dibuat alokasi biaya bersama sebagai berikut.

Produk Bersama
Jumlah Produk
(1)
Harga Jual/Unit
(2)
Nilai Jual
(3) = (1) x (2)
Nilai Jual Relatif
(4)
Alokasi Biaya Bersama
(5) = (4) x Rp 1.000.000
Biaya/Unit
(6) = (5)/(1)
Bensin
40.000 liter
Rp 1.000
Rp 40.000.000
50,80%
Rp 508.000
Rp 12,70
Pelumas
35.000 liter
Rp 750
Rp 26.250.000
33,33%
Rp 333.300
Rp 9,52
Minyak Tanah
25.000 liter
Rp 500
Rp 12.500.000
15,87%
Rp 158.700
Rp 6,35
Total
100.000 liter

Rp 78.750.000
100,00%
Rp 1.000.000

   
e 2. Metode Rata-Rata Biaya Per Satuan
Hanya dapat digunakan apabila produk bersama yang dihasilkan diukur dalam satuan yang sama. Penentuan masing-masing biaya produk dihitung sesuai dengan proporsi kuantitas masing-masing produk yang dihasilkan.
Contoh:
PT Abadi Buana Citra adalah perusahan yang bergerak dalam usaha pengilangan minyak. Biaya bersama dalam proses pengilangan minyak sebesar Rp 1.000.000. Proses produksi bersama menghasilkan bensin sebanyak 40.000 liter, minyak pelumas sebanyak 35.000 liter, dan minyak tanah sebanyak 25.000 liter. Total produksi secara keseluruhan sebanyak 100.000 liter. Berdasarkan data tersebut dapat dihitung biaya produksi rata-rata per liter adalah sebesar Rp 10 (Rp 1.000.000/100.000 liter). Maka dapat dibuat alokasi biaya bersama sebagai berikut.


Produk
Kuantitas
Rata-rata Biaya per Satuan
Alokasi Biaya Bersama
Bensin
40.000 liter
Rp 10
Rp 400.000
Pelumas
35.000 liter
Rp 10
Rp 350.000
Minyak Tanah
25.000 liter
Rp 10
Rp 250.000
Total
100.000 liter

Rp 1.000.000



3.  Metode Rata-Rata Tertimbang
Didasarkan atas asumsi bahwa masing-masing produk yang dihasilkan dalam proses produksi bersama memiliki faktor penimbang yang berbeda antara lain disebabkan oleh:
a.       Tingkat kesulitan pembuatan produk.
b.      Waktu yang dikonsumsi.
c.       Keahlian tenaga kerja.
d.      Kualitas produk yang dihasilkan.
e.       Faktor penimbang lain yang relevan.
Atas dasar asumsi diatas, penentuan alokasi biaya bersama kepada masing-masing produk didasarkan pada perkalian antara jumlah unit produk dan angka penimbang dan hasil kalinya digunakan sebagai dasar untuk melakukan alokasi.

Contoh:
PT Abadi Buana Citra adalah perusahan yang bergerak dalam usaha pengilangan minyak. Biaya bersama dalam proses pengilangan minyak sebesar Rp 1.000.000. Proses produksi bersama menghasilkan bensin sebanyak 40.000 liter, minyak pelumas sebanyak 35.000 liter, dan minyak tanah sebanyak 25.000 liter. Angka penimbang untuk masing-masing produk, yaitu: bensin 3, minyak pelumas 2, dan minyak tanah 1. Berdasarkan data tersebut, dapat dibuat alokasi biaya bersama sebagai berikut.
Produk

Jumlah Produk
(1)
Angka Penimbang (2)
Jumlah Produk x Angka Penimbang
(3) = (2) x (1)
Alokasi Biaya Bersama
(4) = (3)/215.000 liter x Rp1.000.000
Bensin
40.000 Liter
3
120.000 Liter
Rp 558.140
Pelumas
35.000 Liter
2
70 Liter
Rp 325.581
Minyak Tanah
25.000 Liter
1
25 Liter
Rp 116.279
Total
100.000 Liter

215.000 Liter
Rp 1.000.000


4.  Metode Unit Kuantitatif
Didasarkan pada asumsi bahwa masing-masing produk yang dihasilkan dalam proses produksi bersama menggunakan sejumlah bahan baku sesuai dengan tingkat koefisien pemanfaatan bahan baku yang terdapat pada masing-masing produk yang dihasilkan. Masing-masing produk dapat diidentifikasi sesuai dengan tingkat pemanfaatan bahan baku dalam ukuran satuan yang sama.
Contoh:
PT Abadi Buana Citra adalah perusahan yang bergerak dalam usaha pengilangan minyak. Biaya bersama dalam proses pengilangan minyak sebesar Rp 1.000.000. Dalam pelaksanaan proses produksinya, menggunakan bahan minyak mentah sebanyak 100.000 liter untuk diolah menjadi bensin, minyak pelumas, dan minyak tanah. Berdasarkan analisis, bensin menggunakan minyak tanah sebanyak 40.000 liter, minyak pelumas menggunakan minyak mentah sebanyak 35.000 liter, dan minyak tanah menggunakan minyak mentah sebanyak 25.000 liter. Dapat ditentukan alokasi biaya bersama sebagai berikut.

Bensin adalah 40% (40.000 liter/100.000), pelumas 35% (35.000/10.000liter) dan minyak tanah 25% (25.000 liter/100.000 liter). Berdasarkan data tersebut, dapat dibuat alokasi biaya bersamaan sebagai berikut.
Produk
Kuantitas pemakaian bahan baku (1)
Persentase (2)
Alokasi biaya bersama (3) = (2)xRp.1.000.000
Bensin
40.000 liter
40%
Rp.    400.000
Pelumas
35.000 liter
35%
Rp.    350.000
Minyak tanah
25.000 liter
250%
Rp.    250.000
Total
100.000 liter
100%
Rp. 1.000.000



Contoh Soal



  1. PT Caraka memproduksi dua produk bersama, yaitu A dan B. Biaya produksi bersama bulan Maret 2011 adalah Rp. 15.000. Selama Maret 2011, biaya pemrosesan lebih lanjut diperlukan untuk mengonversi produk dalam bentuk yang siap dijual adalah Rp. 8.000 untuk 800 Unit A dan Rp. 12.000 untuk 400 Unit B. Produk A dijual dengan harga Rp. 25 per unit dan Produk B dijual dengan harga Rp. 50 Per unit. Apabila diamsumsikan bahwa PT Caraka menggunakan metode nilai yang dapat direalisasi neto (Net Realizable Value) untuk mengalokasikan biaya produk bersama, berapakah biaya bersama yang dialokasikan ke Produk A dan Produk B pada Maret 2011 serta Harga Pokok Produksi tiap unitnya setelah Biaya bersama dialokasikan…


Jawaban..

Keterangan
Produk A
Produk B
Unit Produksi
800 Unit
400 Unit
Harga Jual/unit
Rp 25
Rp 50
Biaya Proses lanjutan/unit
Rp. 10
Rp. 30
Biaya Produksi Bersama Maret 2011 adalah Rp. 15.000
Produk bersama
Hrg jual/ Unit
Biaya Tmbhan
Nilai jual Hipotesis
Jmlh Produk
Nilai jual
Rasio
Alokasi
(Rp. 15.000)
HPP / Unit
Produk A
25
10
15
800
12.000
60%
Rp. 9.000
Rp. 11,25
Produk B
50
30
20
400
  8.000
40%
Rp. 6.000
Rp. 15
Total



1.200
20.000
100%
Rp. 15.000


Keterangan Cara Perhitungan :

·         Nilai Jual Hipotesis = Harga jual – biaya tambahan.
·         Nilai Jual = Nilai Jual Hipotesis x Jumlah Produk.
·         Rasio :
-       Produk A =  x 100% = 60%

-       Produk A =  x 100% = 40%

·         Alokasi = Rasio x Rp. 15.000.
·         Harga Pokok Produksi Bersama perunit =

2. PT Paramita mencari, menambang, dan memproses biji besi dan kemudian mengolah menjadi besi, timah, dan seng. PT Paramita memproduksi 80 ton besi, 64 ton timah, dan 73 ton seng. Apabila total biaya bersama sebesar Rp. 18.000.000, berapakah jumlah biaya bersama yang dialokasikan untuk besi, timah, dan seng?

Jawaban..
Produk
Kuantitas Produksi
Alokasi Biaya Bersama
Besi
80 Ton
Rp 6.635.945
Timah
64 Ton
Rp 5.308.756
Seng
73 Ton
Rp 6.055.230
Total
217 Ton
Rp. 18.000.000

Perhitungan :
-          Besi          :  x Rp. 18.000.000 = Rp 6.635.945
-          Timah       :  x Rp. 18.000.000 = Rp 5.308.756
-          Seng         :  x Rp. 18.000.000 = Rp 6.055.230






12 komentar:

  1. Rasio itu darimana ya kak kok tiba tiba bisa dapet 60% dan 40 %

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dari perbandingan nilai jual,Produk A 12.000 / 20.000 Produk B 8.000/20.000

      Hapus
  2. Balasan
    1. Dari buku akuntansi biaya, tugas kuliah dulu itu.

      Hapus
    2. Kak pengarang buku akuntansi biayanya siapa?

      Hapus
  3. kak biaya proses rp 10 sama rp 30 itu dari mana kak

    BalasHapus
  4. Kk pinjam otak nya dong biar pintar ��

    BalasHapus
  5. Mau nanya dong kak itu metode nilai pasar nya saat split off point nggak? Sama mau nanya juga itu buat nilai jual relatif atau rasio nyari nya gimana ya kak? Mohon bantuannya, makasih

    BalasHapus
  6. Soal yg diatas cara krjanya gimna kak🙏

    BalasHapus
  7. Blh minta WA ya ka heeee buat sharing2 seputar akuntansi

    BalasHapus
  8. kak mau nanya cara untuk mencari nilai jual relatif itu gimana ya kaya contoh di atas

    BalasHapus
  9. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus