8.1 Definisi Produk
Bersama dan Produk Sampingan
Dari suatu proses produksi yang
dilaksanakan dalam perusahaan tertentu dapat dihasilkan beberapa jenis produk
dalam waktu bersamaan. Sebagai contoh: proses
produksi yang terjadi pada perusahaan pengilangan minyak, pemrosesannya akan
menghasilkan bensin, minyak pelumas, minyak solar, minyak tanah, dan aspal. Contoh lain: pada perusahaan kimia,
gula, tambangan, pemotongan hewan, penggilingan padi, pada proses bahan baku
yang sama diolah melalui proses produksi bersama / proses bersama (joint product process/joint process) yang
menghasilkan beberapa jenis produk (joint
product).
Dalam pelaksanaan proses produksi
bersama, terdapat hubungan tertentu mengenai jumlah unit produk-produk yang
dihasilkan. Apabila
jumlah produksi produk tertentu ditambah, maka jumlah produksi barang yang lain
ikut bertambah, begitu sebaliknya.
Berdasarkan nilai jual relatif (relative sales value), produk bersama
dikelompokkan menjadi dua jenis, yaitu:
·
Produk Utama (Main Product), yaitu produk yang
mempunyai nilai jual relatif lebih tinggi daripada nilai jual produk sampingan.
·
Produk Sampingan (By-Product), yaitu produk yang
mempunyai nilai relatif lebih rendah
daripada nilai jual produk utama.
daripada nilai jual produk utama.
Produksi Bersama dan Biaya Bersama
|
Produk Utama Relatif Bernilai
Tinggi
Contoh: Beras
|
Produk Sampingan Relatif
Bernilai Rendah
Contoh: Dedak/Katul
|
Titik Pisah
|
Peraga
8.1
Produk
Utama dan Produk Sampingan
Sebagai contoh,
dalam perusahaan penggilingan padi, beras adalah produk utama, sedangkan dedak
atau katul adalah produk sampingan. Untuk kepentingan perhitungan biaya produk
utama dan biaya produk sampingan perlu dilakukan alokasi biaya bersama (joint cost) kepada masing-masing
produk. Tujuannya yaitu untuk kepentingan perhitungan biaya produk. Biaya
produk tersebut seanjutnya digunakan untuk kepentingan penilaian persediaan dan
penentuan laba.
Dalam
pelaksanaan proses produksi bersama, terdapat titik pisah (split-off point) yaitu tahapan dalam proses produksi pada saat
beberapa produk dapat diidentifikasi secara jelas. Setelah titik pisah dapat
diketahui adanya produk utama dan produk sampingan.
8.2
Definisi Biaya Bersama dan Produk Bersama
Biaya
Bersama (Joint Cost) adalah biaya yang
dikeluarkan sejak saat mula-mula bahan baku diolah sampai dengan saat berbagai
macam produk dapat dipisahkan identitasnya. Biaya bersama harus dialokasikan ke
berbagai departemen, baik dalam perusahaan yang kegiatan produksinya
berdasarkan pesanan maupun yang kegiatan produksinya dilakukan secara massal.
Terdiri atas: biaya bahan baku, biaya tenaga kerja dan biaya overhead pabrik.
Biaya ini dikeluarkan untuk mengolah bahan baku menjadi produk bersama.
Produk Bersama (Joint Product) adalah
dua produk atau lebih yang diproduksi secara serentak dengan serangkaian proses
atau dengan proses bersama. Dari suatu proses bersama akan dihasilkan beberapa
produk produk berupa produk utama dan produk sampingan.
Produk
Utama adalah satu produk atau lebih yang nilai
jualnya (kuantitas dikalikan dengan harga jual per satuan) relatif lebih
tinggi, yang diproduksi bersama dengan produk lain yang nilai jualnya relatif
lebih rendah. Produk Sampingan adalah
satu produk atau lebih yang nilai jualnya relatif lebih rendah, yang diproduksi
bersama dengan produk lain yang nilai jualnya relatif lebih tinggi. Perbedaan
antara produk utama dan produk sampingan didasarkan pada nilai jual relatifnya.
Jika nilai jual produk yang dihasilkan dianggap material dibandingkan seluruh pendapatan perusahaan,
produk tersebut merupakan produk utama. Jika
nilai jual salah satu produk relatif kecil dibandingkan total pendapatan
perusahaan, produk tersebut merupakan produk
sampingan. Perbedaan dasar kriteria nilai jual tersebut memungkiankan
produk yang ada pada suatu saat diperlakukan sebagai produk sampingan dan pada
saat yang lain diperlakukan sebagai produk utama.
8.3
Karakteristik Produk Utama dan Produk Sampingan
Produk utama
memiliki beberapa karakteristik:
1. Merupakan
tujuan utama kegiatan produksi.
2. Harga
jual relatif lebih tinggi dibandingkan dengan produk sampingan yang dihasilkan
pada saat yang sama.
3. Dalam
mengolah produk bersama produsen tidak dapat menghindari untuk menghasilkan
semua jenis produk yang bersama. Contoh dalam perusahaan daging kalengan,
setiap melakukan penyembelihan sapi maka akan diperoleh daging, tulang dan
kulit. Jadi produsen tidak hanya mengolah daging (produk utama) melainkan
memanfaatkan tulang dan kulitnya untuk dijadikan produk sampingan.
Produk sampingan
memiliki karakteristik:
1. Bukan
merupakan tujuan utama kegiatan produksi.
2. Harga
jual produk sampingan relatif lebih rendah dibandingkan produk utama.
Produk sampingan dapat
digolongkan sesuai dengan dapat tidaknya produk tersebut dijual pada saat
terpisah dari produk utamanya. Dapat dirinci sebagai berikut.
1. Produk
sampingan dapat dijual langsung setelah terpisah dari produk utama tanpa
memerlukan proses lebih lanjut. Contoh: proses penggilingan gabah. Produk
sampingan berupa menir, katul, dan dedak.
2. Produk
sampingan yang memerlukan proses pengolahan lebih lanjut setelah terpisah dari
produk utama. Contoh: proses penyembelihan sapi. Produk sampingan berupa kulit
dapat diolah menjadi rambak (bahan pembuat tas), sepatu dan dompet.
8.4
Akuntansi Produk Bersama
Perusahaan yang
menghasilkan produk bersama umumnya menghadapi masalah pemasaran berbagai macam
produknya karena masing-masing produk mempunyai masalah pemasaran dan harga
jual yang berbeda-beda. Oleh karena itu, perlu diketahui seteliti mungkin
bagian dari seluruh biaya produksi yang dibebankan kepada masing-masing produk
bersama sehingga masalah pokok akuntansi biaya brsama adalah penentuan proporsi
total biaya produksi yang harus dibebankan kepada berbagai macam produk
bersama.
Dapat
menggunakan salah satu dari empat metode berikut ini.
1. Metode nilai pasar atau metode nilai jual relatif.
2. Metode
rata-rata biaya per satuan.
3. Metode
rata-rata tertimbang.
4. Metode
unit kuantitatif atau metode satuan fisik.
Metode
yang paling banyak digunakan oleh perusahaan karena harga jual atau nilai jual produk merupakan
perwujudan dari biaya-biaya yang dikeluarkan dalam mengolah produk tersebut.
Didasarkan atas asumsi bahwa masing-masing
produk yang dihasilkan dalam proses produksi bersama memiliki nilai jual
atau nilai pasar yang berbeda yang disebabkan oleh adanya perbedaan tingkat
konsumsi atau pemakaian biaya yang berbeda. Oleh karena itu produk yang
mengonsumsi biaya yang lebih tinggi memiliki nilai jual yang lebih tinggi,
begitupun sebaliknya untuk produk yang mengonsumsi biaya yang lebih rendah
memiliki nilai jual yang lebih rendah. Metode ini merupakan cara pengalokasian
yang bersifat logis dan rasional.
Contoh:
PT
Abadi Buana Citra adalah perusahan yang bergerak dalam usaha pengilangan
minyak. Biaya bersama dalam proses pengilangan minyak sebesar Rp 1.000.000.
Proses produksi bersama menghasilkan bensin sebanyak 40.000 liter, minyak
pelumas sebanyak 35.000 liter, dan minyak tanah sebanyak 25.000 liter. Harga
jual masing-masing produk per liter setelah titik pisah adalah bensin Rp 1.000,
minyak pelumas Rp 750, dan minyak tanah Rp 500. Berdasarkan data tersebut dapat
dibuat alokasi biaya bersama sebagai berikut.
Produk
Bersama
|
Jumlah
Produk
(1)
|
Harga
Jual/Unit
(2)
|
Nilai
Jual
(3) =
(1) x (2)
|
Nilai
Jual Relatif
(4)
|
Alokasi
Biaya Bersama
(5) =
(4) x Rp 1.000.000
|
Biaya/Unit
(6) = (5)/(1)
|
Bensin
|
40.000
liter
|
Rp
1.000
|
Rp
40.000.000
|
50,80%
|
Rp
508.000
|
Rp
12,70
|
Pelumas
|
35.000
liter
|
Rp
750
|
Rp
26.250.000
|
33,33%
|
Rp
333.300
|
Rp
9,52
|
Minyak Tanah
|
25.000
liter
|
Rp
500
|
Rp
12.500.000
|
15,87%
|
Rp
158.700
|
Rp
6,35
|
Total
|
100.000
liter
|
Rp
78.750.000
|
100,00%
|
Rp
1.000.000
|
e 2. Metode Rata-Rata Biaya Per Satuan
Hanya
dapat digunakan apabila produk bersama yang dihasilkan diukur dalam satuan yang
sama. Penentuan masing-masing biaya produk dihitung sesuai dengan proporsi
kuantitas masing-masing produk yang dihasilkan.
Contoh:
PT
Abadi Buana Citra adalah perusahan yang bergerak dalam usaha pengilangan
minyak. Biaya bersama dalam proses pengilangan minyak sebesar Rp 1.000.000.
Proses produksi bersama menghasilkan bensin sebanyak 40.000 liter, minyak
pelumas sebanyak 35.000 liter, dan minyak tanah sebanyak 25.000 liter. Total
produksi secara keseluruhan sebanyak 100.000 liter. Berdasarkan data tersebut
dapat dihitung biaya produksi rata-rata per liter adalah sebesar Rp 10 (Rp
1.000.000/100.000 liter). Maka dapat dibuat alokasi biaya bersama sebagai
berikut.
Produk
|
Kuantitas
|
Rata-rata Biaya per Satuan
|
Alokasi Biaya Bersama
|
Bensin
|
40.000 liter
|
Rp
10
|
Rp 400.000
|
Pelumas
|
35.000 liter
|
Rp 10
|
Rp 350.000
|
Minyak Tanah
|
25.000 liter
|
Rp
10
|
Rp 250.000
|
Total
|
100.000 liter
|
Rp 1.000.000
|
3. Metode Rata-Rata Tertimbang
Didasarkan
atas asumsi bahwa masing-masing produk yang dihasilkan dalam proses produksi
bersama memiliki faktor penimbang yang berbeda antara lain disebabkan oleh:
a. Tingkat
kesulitan pembuatan produk.
b. Waktu
yang dikonsumsi.
c. Keahlian
tenaga kerja.
d. Kualitas
produk yang dihasilkan.
e. Faktor
penimbang lain yang relevan.
Atas
dasar asumsi diatas, penentuan alokasi biaya bersama kepada masing-masing
produk didasarkan pada perkalian antara jumlah unit produk dan angka penimbang
dan hasil kalinya digunakan sebagai dasar untuk melakukan alokasi.
Contoh:
PT
Abadi Buana Citra adalah perusahan yang bergerak dalam usaha pengilangan
minyak. Biaya bersama dalam proses pengilangan minyak sebesar Rp 1.000.000.
Proses produksi bersama menghasilkan bensin sebanyak 40.000 liter, minyak
pelumas sebanyak 35.000 liter, dan minyak tanah sebanyak 25.000 liter. Angka
penimbang untuk masing-masing produk, yaitu: bensin 3, minyak pelumas 2, dan
minyak tanah 1. Berdasarkan data tersebut, dapat dibuat alokasi biaya bersama
sebagai berikut.
Produk
|
Jumlah Produk
(1)
|
Angka Penimbang
(2)
|
Jumlah Produk x
Angka Penimbang
(3) = (2) x (1)
|
Alokasi Biaya
Bersama
(4) = (3)/215.000
liter x Rp1.000.000
|
Bensin
|
40.000
Liter
|
3
|
120.000
Liter
|
Rp
558.140
|
Pelumas
|
35.000 Liter
|
2
|
70 Liter
|
Rp 325.581
|
Minyak
Tanah
|
25.000
Liter
|
1
|
25
Liter
|
Rp
116.279
|
Total
|
100.000
Liter
|
215.000
Liter
|
Rp
1.000.000
|
4. Metode Unit Kuantitatif
Didasarkan
pada asumsi bahwa masing-masing produk yang dihasilkan dalam proses produksi
bersama menggunakan sejumlah bahan baku sesuai dengan tingkat koefisien
pemanfaatan bahan baku yang terdapat pada masing-masing produk yang dihasilkan.
Masing-masing produk dapat diidentifikasi sesuai dengan tingkat pemanfaatan
bahan baku dalam ukuran satuan yang sama.
Contoh:
PT
Abadi Buana Citra adalah perusahan yang bergerak dalam usaha pengilangan
minyak. Biaya bersama dalam proses pengilangan minyak sebesar Rp 1.000.000.
Dalam pelaksanaan proses produksinya, menggunakan bahan minyak mentah sebanyak
100.000 liter untuk diolah menjadi bensin, minyak pelumas, dan minyak tanah.
Berdasarkan analisis, bensin menggunakan minyak tanah sebanyak 40.000 liter,
minyak pelumas menggunakan minyak mentah sebanyak 35.000 liter, dan minyak
tanah menggunakan minyak mentah sebanyak 25.000 liter. Dapat ditentukan alokasi
biaya bersama sebagai berikut.
Bensin
adalah 40% (40.000 liter/100.000),
pelumas 35% (35.000/10.000liter) dan minyak tanah 25% (25.000 liter/100.000
liter). Berdasarkan data tersebut, dapat dibuat alokasi biaya bersamaan sebagai
berikut.
Produk
|
Kuantitas
pemakaian bahan baku (1)
|
Persentase
(2)
|
Alokasi
biaya bersama (3) = (2)xRp.1.000.000
|
Bensin
|
40.000
liter
|
40%
|
Rp. 400.000
|
Pelumas
|
35.000 liter
|
35%
|
Rp. 350.000
|
Minyak tanah
|
25.000
liter
|
250%
|
Rp. 250.000
|
Total
|
100.000 liter
|
100%
|
Rp. 1.000.000
|
Contoh Soal
- PT Caraka memproduksi dua produk bersama, yaitu A dan B. Biaya produksi bersama bulan Maret 2011 adalah Rp. 15.000. Selama Maret 2011, biaya pemrosesan lebih lanjut diperlukan untuk mengonversi produk dalam bentuk yang siap dijual adalah Rp. 8.000 untuk 800 Unit A dan Rp. 12.000 untuk 400 Unit B. Produk A dijual dengan harga Rp. 25 per unit dan Produk B dijual dengan harga Rp. 50 Per unit. Apabila diamsumsikan bahwa PT Caraka menggunakan metode nilai yang dapat direalisasi neto (Net Realizable Value) untuk mengalokasikan biaya produk bersama, berapakah biaya bersama yang dialokasikan ke Produk A dan Produk B pada Maret 2011 serta Harga Pokok Produksi tiap unitnya setelah Biaya bersama dialokasikan…
Jawaban..
Keterangan
|
Produk A
|
Produk B
|
Unit Produksi
|
800 Unit
|
400 Unit
|
Harga Jual/unit
|
Rp 25
|
Rp 50
|
Biaya Proses lanjutan/unit
|
Rp. 10
|
Rp. 30
|
Biaya Produksi Bersama Maret 2011
adalah Rp. 15.000
Produk bersama
|
Hrg jual/ Unit
|
Biaya Tmbhan
|
Nilai jual Hipotesis
|
Jmlh Produk
|
Nilai jual
|
Rasio
|
Alokasi
(Rp. 15.000)
|
HPP / Unit
|
Produk A
|
25
|
10
|
15
|
800
|
12.000
|
60%
|
Rp. 9.000
|
Rp. 11,25
|
Produk B
|
50
|
30
|
20
|
400
|
8.000
|
40%
|
Rp. 6.000
|
Rp. 15
|
Total
|
1.200
|
20.000
|
100%
|
Rp.
15.000
|
Keterangan Cara Perhitungan :
·
Nilai Jual Hipotesis = Harga jual – biaya tambahan.
·
Nilai Jual = Nilai Jual Hipotesis x Jumlah Produk.
·
Rasio :
-
Produk A =
x 100% = 60%
-
Produk A =
x 100% = 40%
·
Alokasi = Rasio x Rp. 15.000.
·
Harga Pokok Produksi Bersama perunit =
Jawaban..
Produk
|
Kuantitas Produksi
|
Alokasi Biaya
Bersama
|
Besi
|
80 Ton
|
Rp 6.635.945
|
Timah
|
64 Ton
|
Rp 5.308.756
|
Seng
|
73 Ton
|
Rp 6.055.230
|
Total
|
217 Ton
|
Rp.
18.000.000
|
Perhitungan
:
-
Besi :
x Rp. 18.000.000 = Rp 6.635.945
-
Timah :
x Rp. 18.000.000 = Rp 5.308.756
-
Seng :
x Rp. 18.000.000 = Rp 6.055.230
Rasio itu darimana ya kak kok tiba tiba bisa dapet 60% dan 40 %
BalasHapusDari perbandingan nilai jual,Produk A 12.000 / 20.000 Produk B 8.000/20.000
Hapuskak sumbernya gimana
BalasHapusDari buku akuntansi biaya, tugas kuliah dulu itu.
HapusKak pengarang buku akuntansi biayanya siapa?
Hapuskak biaya proses rp 10 sama rp 30 itu dari mana kak
BalasHapusKk pinjam otak nya dong biar pintar ��
BalasHapusMau nanya dong kak itu metode nilai pasar nya saat split off point nggak? Sama mau nanya juga itu buat nilai jual relatif atau rasio nyari nya gimana ya kak? Mohon bantuannya, makasih
BalasHapusSoal yg diatas cara krjanya gimna kak🙏
BalasHapusBlh minta WA ya ka heeee buat sharing2 seputar akuntansi
BalasHapuskak mau nanya cara untuk mencari nilai jual relatif itu gimana ya kaya contoh di atas
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus